bandara tripoliTripoli, LiputanIslam.com — Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir diduga kuat terlibat dalam aksi serangan udara dalam pertempuran di bandara internasional Tripoli antara kelompok-kelompok militan yang saling bersaing.

Mesir sendiri telah membantah laporan tersebut, sedangkan UEA tidak berkomentar. Sementara AS dan sekutu-sekutu baratnya yang terkejut dengan aksi tersebut mempersoalkan legalitas penggunaan senjata buatan mereka dalam aksi tersebut.

Sebuah pesawat tempur tanpa identitas melakukan 2 kali serangan  dalam pertempuran di bandara Tripoli baru-baru ini antara kelompok Islamis dan nasionalis-sekuler yang berakhir dengan dikuasainya bandara tersebut oleh kelompok Islamis. Demikian laporan BBC News.

New York Times dalam laporannya hari Senin (25/8) menyebutkan pesawat tersebut milik UEA yang terbang dari pangkalan militer Mesir.

Seorang pejabat AS mengatakan kepada BBC bahwa pihaknya tidak mendapatkan pemberitahuan atas aksi tersebut, selain prihatin bahwa senjata buatan AS kemungkinan telah digunakan untuk tindakan yang melanggar perjanjian pembelian dengan AS.

Pada hari Senin (25/8) AS, Perancis, Jerman, Italia dan Inggris mengeluarkan pernyataan bersama mengecam “campur tangan asing” di Libya yang disebut telah “memperluas perbedaan dan menghambat transisi demokrasi di Libya”.

BBC juga melaporkan keterlibatan UEA dan Mesir tersebut semakin memperkuat anggapan terjadinya persaingan keras di kawasan antara negara-negara pendukung gerakan Islamis melawan negara-negara diktator Arab.

Qatar yang menjadi pendukung gerakan Ikhwanul Muslimin dikabarkan telah menyediakan bantuan senjata kepada kelompok Islamis di Libya sebagaimana di Suriah dan Mesir. Sedangkan Mesir, Saudi Arabia, dan UEA berusaha menghentikan gerakan Islamis.

Akhir pekan lalu kelompok-kelompok militan Islamis yang berasal dari Misrata mengambil alih bandara Tripoli dari kelompok milisi dari Zintan yang telah menguasai bandarat itu selama 3 tahun, melalui pertempuran sengit selama hampir 1 bulan.

Menyusul perkembangan itu, hari Senin (25/8) parlemen lama yang didominasi kelompok-kelompok Islamis kembali bertemu untuk membubarkan pemerintahan dan parlemen interim yang didominasi kelompok nasionalis-sekuler.

Bulan Juni lalu parlemen General National Congress (GNC) yang didominasi kelompok-kelompok Islamis, digantikan oleh parlemen baru House of Representatives, yang didominasi oleh kelompok-kelompok liberal-sekuler dan nasionalis.

GNC yang bersidang kembali di Tripoli hari Senin, menolak keberadaan parlemen penggantinya yang bermarkas di kota garnisun Tobruk. Sebaliknya House of Representatives menyebut kelompok-kelompok yang kini menguasai Tripoli adalah “teroris”.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL