serangan ukrainaLuganks, LiputanIslam.com — Pasukan Ukriana terus menggempur wilayah-wilayah kelompok separatis di Provinsi Lugansk dan Donetsk.

Sebuah desa di luar kota Lugansk mengalami pemboman gencar selama 3 hari berturut-turut hingga Rabu petang (2/7). Demikian laporan kantor berita Interfax sebagaimana dikutip Voice of Russia. Selain itu serangan gencar juga terjadi di kota Kramatorsk, Provinsi Donetsk.

“Tembakan artileri berat kembali menghantam Kramatorsk, Rabu petang (2/7),” kata seorang anggota milisi separatis, sembari menyebutkan pasukan Ukraina juga menggunakan bom cluster yang dilarang PBB.

“Bom-bom cluster kemungkinan digunakan. Kita bisa mendengar ledakan besar yang diikuti oleh ledakan-ledakan yang lebih kecil,” tambahnya.

Ia menambahkan, kawasan pemukiman Yasnogorka di dekat Kramatorsk tidak lagi memiliki layanan gas setelah sebuah bom meledakkan pipa gas yang menyalurkan gas ke wilayah itu.

Menurut berbagai laporan, roket-roket Grad digunakan dalam serangan terhadap Kramatorsk yang masih berlanjut hingga Rabu malam.

Pemboman di Kramatorsk dimulai lagi tanggal 30 Juni lalu, hanya beberapa jam setelah berakhirnya gencatan senjata yang diumumkan pemerintah Ukraina.

Pada hari Rabu (2/7), sebuah bus penumpang terkena bom yang ditembakkan Ukraina di kota Slavyansk, menewaskan 2 orang. Demikian keterangan pemimpin separatis Pavel Gubarev.

Laporan terakhir tentang jumlah total korban yang tewas dan luka-luka masih belum dikeluarkan.

Di tengah-tengah serangan, sebuah pesawat tempur SU-24 Ukraina tertembak oleh rudal portabel yang ditembakkan milisi separatis. Namun pesawat itu berhasil mendarat dengan satu mesinnya dan sang pilot pun selamat. Demikian keterangan pejabat militer Ukraina, Rabu (2/7).

“Sebuah pesawat Su-24 diserang saat terbang di wilayah Donetsk. Empat rudal jinjing ditembakkan, satu di antaranya mengenai pesawat. Setelah tertembak, pilot menerbangkan pesawat dengan satu mesin sejauh 300 km dan mendarat dengan selamat di pangkalannya,” kata jubir militer Ukraina.

Pemerintah dan Media AS Dikecam
Sementara itu seorang pakar Rusia terkenal, Stephen Cohen, mengkritik dengan keras peran pemerintah dan media massa AS atas tragedi yang terjadi di Ukriana timur.

Dalam artikel yang ditulis di majalah The Nation baru-baru ini Cohen mendesak AS untuk bertindak untuk menghentikan konflik berdarah di Ukraina.

“Hari ini, saat Ukriana mendekati bencana kemanusiaan, (Presiden) Obama dan (Menlu) John Kerry meninggalkan tanggungjawabnya sebagai negarawan. Mereka mundur ke belakang dan membiarkan yang pejabat lebih rendah untuk bertindak,” tulis Cohen.

Adapun terhadap media massa, ia mengkritik, “Selama krisis Ukraina terjadi mereka telah bersikap seperti orang yang berfikiran sempit dan mengelak seperti pemerintah. Mereka menyembunyikan kekejaman yang terjadi dan mengandalkan informasi sepenuhnya dari pemerintah,” tambah Cohen.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL