ukraine troops3Kiev, LiputanIslam.com — Negara-negara NATO telah mulai mengirimkan senjata ke Ukraina untuk membantu memerangi pemberontakan di wilayah timur. Demikian pernyataan Menteri Pertahanan Ukraina sebagaimana dilaporkan BBC News, Minggu petang (14/9).

Menhan Ukraina Valery Heletey tidak menyebutkan secara rinsi jenis senjata dan negara-negara yang terlibat dalam pengiriman senjata tersebut. Sebelumnya 5 negara anggota NATO, termasuk AS, menolak kabar tentang pengiriman senjata ke Ukraina.

Perdana Menteri Ukraina pernah menyebutkan bahwa NATO menjadi “satu-satunya kendaraan” untuk melindungi Ukraina dari ancaman Russia, yang dianggap telah campur tangan dalam konflik di Ukraina timur.

Rusia membantah telah campur tangan dalam konflik di Ukraina, meski tidak membantah adanya warga negaranya menjadi sukarelawan membantu para pemberontak separatis. Sejauh ini telah lebih dari 2.600 orang yang tewas dalam konflik di Ukraina timur dan ratusan ribu lainnya menjadi pengungsi.

Pada hari Jumat (8/9), sebuah gencatan senjata yang difasilitasi pemerintah Belarusia dan Organisasi Keamanan Eropa (OSCE) berhasil disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat konflik. Namun berbagai pelanggaran masih terus terjadi.

BBC News melaporkan, Minggu (14/9), pertempuran sengit terjadi di sekitar bandara internasional Donetsk yang masih diduduki pasukan Ukraina..

Heletey mengatakan kepada wartawan, Minggu (14/9) bahwa ia telah mendiskusikan pengiriman-pengiriman senjata dengan beberapa menteri pertahanan negara anggota NATO selama pertemuan tingkat tinggi NATO di Wales minggu lalu.

“Saya tidak berhak untuk membuka lebih detil negara-negara yang telah mencapai kesepakatan dengan kami. Namun faktanya adalah senjata-senjata itu telah telah dalam perjalanan menuju kemari. Ini sangat benar, saya bisa mengatakannya secara resmi kepada Anda,” kata Heletey.

Lebih jauh Heletey juga tidak membantah kabar tentang kemungkinan pembicaraan tentang senjata nuklir di masa mendatang.

Para pejabat NATO sendiri membantah memiliki rencana mengirimkan senjata ke Ukraina, namun tidak berwenang untuk mencegah masing-masing negara anggotanya untuk melakukan hal itu. Sementara pejabat-pejabat Italia, Polandia, Norwegia, dan AS telah membantah hal itu.

Pada hari Sabtu (13/9) PM Ukraina Arseniy Yatsenyuk menuduh Rusia menginginkan untuk menghancurkan Ukraina dan menyebutnya sebagai “agresor kunci” dalam konflik Ukraina.

NATO sendiri memperkirakan Rusia masih menempatkan sekitar 1.000 pasukan bersenjata berat di Ukraina, dan sekitar 20.000 pasukan di perbatasan.

Dalam KTT NATO di Wales minggu lalu, disepakati untuk membentuk pasukan gerak cepat yang bisa dikerahkan dalam waktu 48 jam. Langkah ini dipandang sebagai respon atas perkembangan di Ukraina.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL