warga donetskKiev, LiputanIslam.com — Ukraina dan Rusia menyatakan kesepakatan untuk mengirim bantuan kemanusiaan yang dikoordinir oleh Palang Merah Internasional ke kota Luhansk.

Dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilaporkan BBC, Senin (11/8) petang, Palang Merah menyebutkan kesiapan untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan. Namun mereka masih memerlukan keterangan lebih rinci tentang pengiriman bantuan dari Rusia yang sebelumnya ditolak oleh Ukraina dan negara-negara barat karena khawatir digunakan sebagai kedok dari bantuan senjata oleh Rusia kepada para separatis.

Ribuan orang berada di bawah kondisi krisis air, makanan dan penerangan di Ukraina timur. Demikian keterangan Palang merah internasioinal.

Setidaknya 1.500 orang tewas sejak Ukraina melakukan operasi militer untuk menumpas pemberontakan di wilayah timur Ukraina sejak April lalu. Selain itu ribuan warga Ukraina timur juga telah meninggalkan kampung halaman mereka dan menjadi pengungsi di Rusia.

Saat ini pasukan pemerintah tengah mengepung kota Donetsk yang bersama kota Donetsk merupakan pusat gerakan separatisme.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) akan menerapkan aturan yang ketat dalam pelaksanaan bantuan kemanusiaan ini untuk menjaga netralitas di wilayah konflik. Sebelumnya, organisasi itu mengatakan bahwa Rusia harus memberikan data-data lengkap barang-barang yang dikirimkan, termasuk jumlah dan tipenya. Rusia juga harus menyediakan perlangkapan transportasi dan penyimpanannya.

“Semua pihak juga harus menjamin keamanan staff dan kendaraan ICRC selama operasi kemanusiaan ini,” kata jubir ICRC Laurent Corbaz seraya menambahkan bahwa pihaknya manolak pengawalan bersenjata.

Sementara itu Menlu Rusia Sergei Lavrov dalam pernyataan kepada Russian TV juga menyebutkan kesepakatan tentang bantuan kemanusiaan ini. Adapun jubir kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov kepada AFP menyebutkan militer Rusia tidak akan dilibatkan dalam konvoi pengiriman bantuan.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko juga membenarkan adanya kesepakatan yang melibatkan Palang Merah, Uni Eropa, Rusia dan AS. Dan AS akan terlibat aktif dalam misi tersebut, demikian keterangan pers kepresidenan Ukraina, Senin (11/8).

Rusia belum menyebutkan kapan misi kemanusiaan itu akan dimulai.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL