perang ukrainaDonetsk, LiputanIslam.com — Ukraina mengakui pasukannya telah menarik diri dari Bandara Internasional Donetsk yang menjadi pusat pertempuran sengit dengan kelompok separatis.

Kemenhan Ukraina mengatakan bahwa pasukannya telah menarik diri dari terminal utama Bandara Donetsk dan 6 orang prajuritnya tewas dalam pertempuran terakhir, namun mengklaim masih menguasai sebagian wilayah bandara tersebut.

Sebagaimana dilansir BBC News, Kamis (22/1), pasukan Ukraina menarik diri dari bandara setelah posisi mereka hancur dan menjadi sasaran empuk tembakan pasukan pemberontak.

BBC menyebut kekalahan dalam perebutan Bandara Donetsk itu menjadi “pukulan besar” bagi Ukraina, karena bandara tersebut menjadi simbol penting bagi kedua pihak, meski secara efektif bandara itu sudah tidak berfungsi lagi selama beberapa bulan terakhir akibat pertempuran.

Sekitar 5.000 orang diperkirakana telah tewas sejak kelompok separatis mengambil alih wilayah Luhansk dan Donetsk bulan April lalu yang dibalas dengan offensif militer besar-besaran oleh Ukraina.

Sementara itu di kota Donetsk setidaknya 9 orang tewas setelah sebuah bus dihantam oleh artileri pasukan Ukraina. Hal itu hanya berselang beberapa jam setelah para Menteri Luar Negeri Ukraina, Rusia, Perancis dan Jerman mengeluarkan seruan bersama bagi diakhirinya tembak-menembak. Dalam pertemuan di Berlin, keempat pejabat tersebut juga menyerukan dibentuknya garis demarkasi antara pasukan pemerintah dan separatis Ukraina.

Laporan-laporan juga menyebutkan adanya pertempuran sengit di Slovyanoserbsk di barat-laut Luhansk, mengindikasikan pertempuran kini telah meluas.

Ukraina menuduh Rusia telah mengirim sekitar 9.000 pasukan regulernya untuk membantu pemberontak. Sekjen NATO Jens Stoltenberg, pada hari Rabu (21/1) juga mengatakan adanya peningkatan kekuatan militer Rusia di Ukraina timur, namun tuduhan-tuduhan itu dibantah keras oleh Rusia.

“Kami tahu mengetahui bahwa ada sejumlah warga Rusia yang bertempur di pihak separatis, mereka datang atas kehendak sendiri untuk berperang,” kata Deputi Perdana Menteri Rusia Arkady Dvorkovich kepada BBC.

“Kami mencoba untuk memastikan bahwa orang-orang di Ukraina timur terlindungi dan menjaga hak-hak mereka. Kami ingin Ukraina yang damai,” tambahnya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*