putin erdoganLiputanIslam.com — “Musuh yang sama menyatukan 2 pihak yang berbeda”, demikian kira-kira kata-kata bijak seorang filsuf Tiongkok berabad-abad silam. 2 ekor srigala yang berkelahi memperebutkan makanan, akan bersatu melawan macan yang mendekat untuk merebut makanan mereka. Itulah kebijakan alam yang mendasari sang filsuf menciptakan petuah-petuahnya.

Fenomena itu juga tampak dari saling mendekatnya Turki dengan Rusia di panggung perpolitikan dunia akhir-akhir ini. Turki yang semakin menjauh dari “semangat dan nilai-nilai” Uni Eropa (dan AS), sementara Rusia yang harus menerima sanksi-sanksi Uni Eropa dan AS, sama-sama memandang barat sebagai ancaman dan karenanya kini bersatu untuk menghadapinya bersama.

Hubungan Rusia-Turki menjadi perhatian dunia setelah pada tanggal 1 Desember lalu kedua negara menandatangani kerjasama perdagangan dan energi yang bakal menggantikan proyek energi South Stream yang terkatung-katung karena “embargo” Uni Eropa.

Dalam konperensi pers yang digelar setelah penandatanganan kerjasama di Ankara, Turki, Presiden Rusia Vladimir Putin, mengatakan bahwa Rusia akan memberikan harga diskon gas sebesar 6% untuk Turki mulai tahun 2015, dan Rusia setuju untuk menambah suplai gas ke Turki hingga 3 miliar meter kubik. Lebih dari itu, Putin juga mengumumkan penghentian proyek pipa gas South Stream yang ditentang Uni Eropa.

“Mempertimbangkan bahwa sampai saat ini kami tidak mendapatkan ijin dari Bulgaria, kami percaya bahwa kondisi saat ini tidak memungkinkan Rusia untuk melanjutkan realisasi proyek ini,” kata Putin.

“Rusia bakal menjadikan Turki sebagai pusat penyalur gas Rusia ke Eropa Selatan,” tulis Al Jazeera tentang kerjasama tersebut.

Dalam kesepakatan tersebut kedua negara juga akan meningkatkan nilai perdagangan dari $33 miliar menjadi $100 miliar pada tahun 2020. Sementara ahli-ahli Rusia bakal membangun pembangkit energi nuklir pertama di Turki.

Bagi sebagian warga Turki, meninggalkan Uni Eropa dan mendekati Rusia bisa menjadi “jalan keluar yang menguntungkan” setelah selama ini Turki hanya dianggap sebagai negara 1/2 Eropa, atau negara Uni Eropa dengan kasta terendah.

“Bayangkan jika kita terkait dengan Uni Eropa sekarang. Haruskah kita membiayai Yunani dan beberapa negara bangkrut lainnya? Kita harus bersyukur. Mereka tidak ingin menerima kita karena kita terlalu besar dan terlalu Muslim. Kita tidak butuh dengan perekonomian mereka yang stagnan,” kata seorang politisi Turki kepada Russia Today beberapa waktu lalu.

Kini, ketika hubungan Rusia dengan Uni Eropa memburuk, Turki memiliki kesempatan untuk untuk memperkuat posisi tawarnya di mata Uni Eropa, dengan mendekati Rusia. Dahulu Turki mungkin berharap mendapatkan banyak keuntungan dengan bergabung dengan Uni Eropa, kini kecenderungannya telah berbalik arah.

Sejak Recep Erdogan berkuasa, ia telah membawa Turki menjauh dari “patron”-nya, AS dan Uni Eropa. Dimulai dengan sikapnya yang lebih pro-Palestina dengan mengorbankan Israel yang telah menjadi sekutu Turki sejak lama. Ini berpuncak pada insiden penyerangan kapal Mavi Marmara oleh tentara Israel yang menewaskan 9 warga Turki. Kemudian, dalam kampanye anti-ISIS yang dipimpin AS, Turki menunjukkan sikap keengganan yang sangat menyolok untuk bekerjasama.

Uni Eropa sudah lama “mempermainkan” Turki dalam pembicaraan tentang keanggotaan penuh Turki ke Uni Eropa, dan hal itu dianggap sudah cukup bagi Turki untuk mencari “patron” baru, bila mungkin menjadi “patron” sendiri dengan menggandenga mitra strategis baru menghadapi “patron” lamanya, yaitu AS dan Uni Eropa.

Uni Eropa akhirnya memang membuka dialog tentang keanggotaan penuh Turki pada tahun 2005, namun Turki sudah tidak begitu lagi antusias dengan keanggotaan itu dan bahkan bergerak menjauh dari prinsip-prinsip keanggotaan Uni Eropa. Selain mendekati Palestina, Presiden Erdogan secara pelan namun pasti membawa negaranya ke arah model pemerintahan semi otoriter yang jauh dari standar pemerintahan Uni Eropa.

Setelah memecati ratusan aparat kepolisian dan kejaksaan yang mencoba “menyentuh” kekuasaannya dengan menggunakan alasan penyidikan korupsi, menempatkan lembaga penyelidikan di bawah kekuasaan pemerintah, membangun proyek-proyek ambisius yang tidak populer, baru-baru ini polisi menyerbu kantor media massa oposisi terbesar Zaman.

“Ankara kini melirik ke Moscow atau Beijing daripada Washington atau Berlin,” tulis analisis Russia Today baru-baru ini.

Menurut Russia Today sikap Turki yang seolah ingin mendekat ke Uni Eropa hanyalah strategi untuk meredam oposisi kaum sekularis dan militer, karena Erdogan juga menyadari bahwa Uni Eropa tidak serius menerima Turki sebagai anggota.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL