tunisia pemiluTunis, LiputanIslam.com — Tunisia hari Minggu (23/11) menggelar pemilihan presiden pertama sejak tumbangnya regim Zine al-Abidine Ben Ali oleh “Arab Spring” tahun 2011 lalu. Lebih dari 25 kandidat bersaing dalam pemilihan ini, namun kandidat inkumben Moncef Marzouki dan pemimpin sekuler Beji Caid Essebsi dianggap sebagai kandidat paling kuat. Demikian BBC News melaporkan.

Jika tidak ada kandidat yang meraih lebih dari 50% suara, maka pemilu dilanjutkan ke babak ke-11 dengan peserta 2 kandidat peraih suara terbaik pada tanggal 31 Desember mendatang.

“Kami adalah yang pertama lingkaran perubahan yang disebut sebagai Arab Spring,” kata Perdana Menteri Mehdi Jomaa menjelang memberikan suaranya di sebuah kotak suara.

Essebsi dari Partai Nidaa Tounes (Tunisia Memanggil), adalah favorit pemenang pemilihan setelah partainya memenangkan pemilihan parlemen beberapa bulan lalu. Namun para pengkritiknya menganggap bahwa Essebsi (87 tahun) yang menjadi pejabat semasa regim Habib Bourguiba dan Ben Ali, dianggap sebagai masa lalu.

Kandidat kuat lainnya adalah Presiden inkumben Marzouki, Ketua Parlemen Mustapha Ben Jaafar, Ketua Partai Republik Ahmed Nejib Chebbi, hakim wanita Kalthoum Kannou dan pengusaha Slim Riahi.

Partai Islamis Ennahda yang menjadi penguasa dalam pemerintahan terdahulu sebelum dikalahkan Nidaa Tounes tidak mengajukan calon.

Pemimpin Ennahda Rachid Ghannouchi menyebut tidak adanya calon dari partainya dimaksudkan untuk menghindari polarisasi dan keterpecahan. Munculnya Ennahda ke panggung kekuasaan memang menimbulkan kekhawatiran kelompok-kelompok nasionalis-sekuler tentang kelompok Islamis akan mendominasi kekuasaan.(ca)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL