Washington, LiputanIslam.com—Presiden AS Donald Trump kembali mengeluarkan perintah eksekutif untuk menjatuhkan sanksi baru atas Iran, kali ini di sektor logam dan pertambangan.

“Tindakan hari ini menargetkan pendapatan Iran dari ekspor logam-logam industrial – sepuluh persen pemasukan ekspor [Iran]– dan memperingatkan negara lain bahwa membiarkan produk baja dan logam lainnya dari Iran masuk ke pelabuhan mereka tidak akan lagi ditoleransi,” demikian kata Trump dalam sebuah pernyataan pada Rabu (8/5) kemarin.

Selanjutnya, presiden Amerika Serikat ke-45 itu menyatakan kesediaannya untuk bernegosiasi dengan Iran atas sebuah kesepakatan nuklir.

“Saya berharap suatu hari nanti dapat bertemu dengan para pemimpin Iran untuk menyusun kesepakatan dan, yang sangat penting, mengambil langkah-langkah untuk memberikan Iran masa depan yang layak,” klaimnya.

Di sisi lain, pemerintah AS terus mengancam Iran dengan “tekanan maksimum” setelah adanya respons yang keras dari Teheran terhadap langkah-langkah pemerintahan Trump.

Pada hari Rabu, Dewan Tinggi Keamanan Nasional Iran memutuskan untuk “menghentikan pelaksanaan sejumlah komitmen Republik Islam Iran terhadap JCPOA.”

Berdasarkan statemen mereka, Iran tidak lagi berkomitmen untuk membatasi cadangan uranium yang sudah dikayakan dan cadangan heavy water. Negara-negara yang masih bertahan di JCPOA diberi waktu 60 hari untuk merealisasikan janji-janjinya. Jika tidak, Iran secara bertahap akan mengurangi komitmen-komitmen lain dalam JCPOA.

Merespon keputusan itu, Duta AS untuk Iran, Brian Hook, mengatakan bahwa negaranya “tidak akan pernah disandera oleh pemerasan nuklir rezim Iran.”

“Kami akan terus memberikan tekanan maksimum kepada rezim itu sampai mereka meninggalkan ambisi mereka yang tidak stabil dan kami sangat mengharapkan agar komunitas internasional menuntut pertanggungjawaban mereka atas ancaman perluasan program nuklir,” tuturnya. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*