Washington, LiputanIslam.com—Retorika memecah-belah Presiden AS Donald Trump telah menyebabkan perselisihan di tengah masyarakat, dan akan meningkatkan kejahatan politis oleh kelompok sayap-kanan AS. Demikian analisis dari pengamat politik dan organisasi hak sipil.

Menurut para pengamat, respon Trump atas demo supremasi kulit putih yang mematikan di Charlottesville, Virginia, akan meningkatkan kejahatan kebencian dan ketegangan rasial di waktu mendatang.

“Selalu ada ketegangan atas ras dan etnisitas dan imigran, karena itu adalah bagian dari sejarah Amerika. Namun jika Anda punya presiden yang menyerang sekelompok [ras], itu akan jadi bahaya besar…,” kata Julian Zelizer, seorang ahli sejarah politik dan presidensial di Universitas Princeton.

“Orang-orang yang marah akan menyerang kelompok yang ia [Trump] serang, dan itu bukan situasi yang aman,” tambahnya.

Di sejumlah kota di Amerika, kampus dan agensi keamanan tengah mempersiapkan diri atas lebih banyak demo sayap-kanan, di mana diperkirakan akan terjadi bentrokan lagi antara pihak pro dan kontra.

“When there seems to be no room for compromise and no appetite for listening to the other side, the potential for violence is higher,” said Richard Cohen, president of the Southern Poverty Law Center, civil rights organization that monitors hate crime and extremist groups.

“Apa yang kita lihat sekarang adalah konsekuensi retorika penghasut Trump…” kata Richard Cohen, ketua Southern Poverty Law Center, sebuah organisasi hak sipil yang memonitor kejahatan kebencian dan kelompok ekstremis..

“Komentar Trump setelah insiden Charlottesville telah membakar semangat gerakan supremasi kulit putih dan membuat orang-orang bertindak atas naluri terburuk mereka,” catatnya.

Ahli HAM PBB telah memperingatkan pemerintah AS untuk segera mencegah pidato rasis dan kejahatan kebencian  “tanpa ragu dan tanpa syarat.”  Kegagalan melakukan itu akan menyebabkan lebih banyak kejahatan oleh kelompok supremasi kulit putih.

Berdasarkan survei dari Universitas Quinnipiac yang dirilis pada Kamis (24/8/17), 62% pemilih AS menilai Trump telah memicu perpecahan. 59 persen mengatakan, mereka percaya kejahatan kebencian akan meningkat secara dramatis sejak ia menjadi presiden. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL