Washington, LiputanIslam.com—Presiden AS Donald Trump akhirnya memutuskan untuk mengakhiri program pelatihan dan bantuan CIA kepada pasukan oposisi moderat Suriah—militan yang berperang melawan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Kantor berita The Washington Post merlaporkan hal ini berdasarkan informasi dari dua pejabat AS pada Rabu (19/71/7).

CIA sendiri menolak merespon laporan ini. Juru Bicara Gedung Putih, Sarah Sanders, juga tidak memberikan komentar apapun dalam pertemuan di Gedung Putih.

Program CIA ini dimulai pada tahun 2013 sebagai upaya pemerintahan Obama untuk menggulingkan Assad. Sejumlah pemberontak yang dilatih dan diberikan senjata ternyata berhubungan dengan ISIS dan kelompok radikal lainnya.

Menurut sumber, penutupan program ini memperlihatkan upaya Trump untuk meningkatkan hubungan dengan Rusia.

“Ini adalah sinyal kepada Putin bahwa pemerintah [AS] ingin meningkatkan hubungan dengan Rusia,” kata seorang pejabat.

Keputusan ini sudah direncanakan sejak sebulan lalu, setelah pertemuan di Oval Office dengan Direktur CIA, Mike Pompeo, dan Penasehat Keamanan Nasional, H.R. McMaste.

Namun, penutupan program ini tidak menandakan berakhirnya campur tangan AS di Suriah. Baru-baru ini, Trump menandatangani rencana mempersenjatai  pasukan pemberontak Kurdi bernama Syrian Democratic Forces dengan menggunakan dana dari Departemen Pertahanan.

Menurut sumber, dukungan militer AS kepada pasukan pemberontak Suriah lain dengan serangan udara juga akan tetap dilanjutkan. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL