Diambil dari Tribunnews

LiputanIslam.com – Tolak hasil penghitungan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU), pihak KPU meminta Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi untu membuka data mereka di rapat pleno terbuka rekapitulasi nasional di kantor KPU.

Salah satu komisioner KPU, Wahyu Setiawan, menilai bahwa pihak BPN dan saksi penghitungan suara dari BPN tidak sejalan. Pihak BPN menolak hasil KPU, namun saksi penghitungan suara dari pihak BPN Prabowo-Sandi tidak pernah membuka data penghitungan suara mereka tiap provinsi di rapat pleno KPU.

“Tidak bijak membangun narasi ada kecurangan, tetapi dalam rapat pleno rekapitulasi justru tidak menunjukkan data-data yang mereka miliki,” ucap Wahyu kepada Kompas.com, Rabu (15/5).

Menurut Wahyu, pihak BPN harusnya membuka data penghitungan mereka yang bertolak belakang dengan hasil KPU di rapat pleno KPU. Rapat harusnya menjadi tempat untuk adu data sehingga bisa dipertanggungjawabkan dan tidak membingungkan publik.

“Membangun narasi kecurangan di luar rapat pleno rekapitulasi justru dikhawatirkan akan memperkeruh nalar publik. Harusnya sampaikan saja di rapat pleno jika ada data yang berbeda,” lanjutnya.

Hingga Selasa malam (14/5), paslon 01 Jokowi-Ma’ruf unggul dengan memperoleh 37.341.145 suara. Sedangkan paslon 02 Prabowo-Sandi memperoleh 22.881.033 suara. Perolehan ini sudah ditetapkan KPU dalam rapat pleno rekapitulasi 19 provinsi di Kantor KPU.

Penolakan hasil penghitungan suara KPU dilakukan oleh kubu BPN dalam acara ‘Mengungkap fakta-fakta kecurangan pilpres 2019’ di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, Selasa (14/5).

“Kami BPN Prabowo-Sandi bersama rakyat Indonesia yang sadar hak demokrasinya menyatakan menolak hasil penghitungan suara dari KPU RI yang sedang berjalan,” tegas Djoko Santoso, Ketua BPN.

Dalam acara tersebut, pihak BPN juga memaparkan bebagai faktor kecurangan yang terjadi selama pemilu 2019, yaitu daftar pemilih tetap fiktif, politik uang, penggunaan aparat, surat suara tercoblos, hingga salah entry data di Situng.

Prabowo sendiri pun menyatakan sikap menolak hasil penghitungan suara dari KPU dalam acara tersebut.

“Saya akan menolak hasil penghitungan suara pemilu, hasil penghitungan yang curang,” ujar Prabowo Subianto.

Menurut pihak BPN, berdasarkan data mereka, Prabowo-Sandi unggul 54,24 persen atau 48.657.483 suara. (Ay/KPU/Kompas)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*