titk apiJakarta, LiputanIslam.com — Sebanyak 18 titik api kembali terdeteksi di wilayah Sumatera. Tujuh di antaranya tersebar di lima kabupaten di Riau, yaitu Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kampar, Kuantan Singingi, dan Rokan Hulu.

Kemunculan titik-titik api tersebut, bersamaan dengan datangnya musim kemarau antara bulan Mei hingga September mendatang sangat berpotensi akan menimbulkan kebakaran hutan hebat di Provinsi Riau.

Kepala Stasiun Meteorologi Pekanbaru, Drs Sugarin MSi, menyebutkan, potensi kebakaran cukup tinggi karena adanya beberapa unsur, yaitu suhu, kelembaban, curah hujan dan kecepatan angin yang berperan dalam bahaya potensi rawan kebakaran hutan dan lahan.

Pantauan satelit National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), milik Amerika Serikat yang dioperasikan Singapura menunjukkan lokasi-lokasi titik api tersebut.

Satu hotspot di Kabupaten Indragiri Hilir terdapat di Desa Batang Tumu, Kecamatan Mandah. Sedangkan dua hotspot di Indragiri Hulu, berada di Desa Sungai Akar, Kecamatan Batang Gansal, dan Desa Kuantan Babu, Kecamatan Rengat. Untuk Kabupaten Kampar, NOAA mendeteksi dua titik api yang berada di Desa Tanjung Belit Selatan, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, dan di Desa Penghidupan, Kecamatan Kampar Kiri Tengah.

Selain itu, satu hotspot juga ditemukan di Desa Muara Langsat, Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi.

“Titik panas terakhir berada di Desa Kepenuhan Hulu, Kecamatan Kepenuhan Hulu, Kabupaten Rokan Hulu,” ujar Said Saqlul Amri, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau.

Kerugian Besar
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik di Provinsi Riau sejak Januari hingga Maret 2014 lalu mencapai Rp10 triliun.

“Ini masih ekonomi di Riau saja, belum termasuk dari provinsi lain seperti Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan Jambi yang menerima dampaknya,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, di Padang, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, kebakaran tersebut juga terjadi di cagar biosfir yang hidup sejumlah hidup hewan dilindungi seperti harimau sumatera, gajah sumatera , tapir, dan beruang. Di samping itu, asap yang ditimbulkan dari kebakaran lahan mengakibatkan emisi Co2 yang demikian pekat sehingga berpengaruh terhadap meningkatnya tempratur bumi.

“Sebanyak 58 ribu penduduk juga menjadi sakit akibat asap ini. Kalau itu dijumlahkan kerugian tentu banyak sekali dan lebih besar daripada PAD sektor lokal,” katanya

Sutopo menyebutkan, areal yang terbakar di Riau tahun ini meliputi kawasan konservasi 2.398 hektar yang terdiri atas 922,5 hektar Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil, 373 hektar Suaka Margasatwa Kerumutan, 80,5 hektar Taman Wisata Alam Sungai Dumai, 95 hektar Taman Nasional Tesso Nello, 9 hektar cagar alam Bukit Bungkuk, dan 867,5 hektar area penggunaan non kawasan hutan.(ca/nefosnews/antara)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL