Obama_JokowiJakarta, LiputanIslam.com — “Namun hanya ada sedikit kesamaan antara kedua tokoh muda itu.” Demikian kesimpulan media berpengaruh dunia TIMES tentang sosok capres Indonesia Jokowi dengan Presiden Barack Obama.

TIMES rupanya menangkap “gairah” sebagian masyarakat Indonesia, terutama pendukung capres Jokowi, yang suka membanding-bandingkan Jokowi dengan Presiden Barack Obama. Namun, menurut TIMES dalam laporannya berjudul “‘Indonesia’s Obama’ Is Actually Nothing of the Sort” baru-baru ini, hanya 2 kesamaan antara keduanya, yaitu sama-sama relatif muda dan menjadi korban kampanye negatif.

TIMES pun membandingkan rumor tentang agama dan asal-usul Jokowi dengan rumor tentang kelahiran Barack Obama. Jika Jokowi memposting foto surat nikahnya di Facebook untuk membantah rumor tersebut, Obama memposting surat keterangan lahirnya untuk membantah rumor yang menyebut bahwa tempat kelahiran di Kenya.

Namun hanya sampai di situ kesamaannya. Yang lainnya adalah perbedaan. Demikian kesimpulan TIMES.

Perbedaan pertama, menurut TIMES adalah terpilihnya pasangan Jokowi, yaitu Jusuf Kalla, yang menurut TIMES tidak sama dengan wakil Obama, Joe Biden.

Menurut TIMES Jusuf Kalla adalah figur wapres yang tidak bisa bekerjasama dengan pasangannya, sembari mencontohkan rivalitas antara Jusuf Kalla dengan Presiden SBY selama tahun 2004-2009. Jusuf Kalla disebutkan juga memilih kebijakan yang berseberangan dengan SBY dalam kasus Bank Century dengan memberikan testimoni yang tidak sesuai keinginan SBY. TIMES juga menyoroti sikap Jusuf Kalla yang membela aksi penumpasan PKI tahun 1960-an.

Perbedaan lainnya, menurut TIMES adalah Jokowi tidak memiliki kebebasan dalam menentukan pilihan-pilihannya karena banyak “dikendalikan” oleh Ketua PDI-P Megawati Soekarnoputri. TIMES pun mengutip pernyataan Jokowi saat menentukan pemilihan Jusuf Kalla sebagai pasangannya untuk membuktikan analisisnya:

“Berdasar pertimbangan-pertimbangan khusus, pertimbangan-pertimbangan Bu Megawati Soekarnoputri, tadi malam kami memutuskan bahwa pasangan saya adalah Muhammad Jusuf Kalla.”

Lebih jauh TIMES bahkan mengutip pernyataan Megawati Soekarnoputri terhadap Jokowi yang juga banyak dikutip media massa nasional:

“Saya menjadikan Anda (Jokowi) sebagai kandidat presiden. Namun Anda harus ingat bahwa Anda adalah pegawai partai dengan fungsi mengimplementasikan program-program dan idiologi partai.”

TIMES pun menyoroti fenomena tampilnya pemimpin-pemimpin muda negeri ini yang muncul paska gerakan reformasi tahun 1998. Beberapa tokoh tersebut disebutkan, selain Jokowi adalah Wagub DKI Basuki Tjahaja Purnama, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Walikota Bandung Ridwan Kamil, serta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Namun tokoh-tokoh muda tersebut dianggap masih berada di bawah bayang-bayang tokoh senior yang sebagian besar adalah tokoh era Soeharto.

“Pemimpin partai dan pendiri seperti Megawati memperlakukan organisasinya seperti milik pribadi, memegang keputusan akhir tentang calon presiden dan wakilnya hingga calon kepala daerah yang diusung,” tulis TIMES tentang fenomena pencapresan Jokowi oleh PDI-P.

TIMES juga mengomentari pernyataan tim sukses Jokowi dan aktifis anti korupsi Teten Masduki yang dalam akun twitternya menulis, “Perjuangan melawan para oligarch”, sehari sebelum terpilihnya Jusuf Kalla. Maksud Teten adalah menyinggung lawan Jokowi, Prabowo Subianto, yang dikenal sebagai pengusaha besar. Namun Jusuf Kalla, selain sebagai politisi juga dikenal luas sebagai seorang oligarch Indonesia.

Maka, “Saat hari pemilihan mendekat dan partai-partai politik saling bersaing memperebutkan suara, persaingan memperebutkan kursi presiden pun berubah menjadi persaingan antara para oligarch, bukan melawan mereka,” demikian kesimpulan TIMES.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL