pertemuan hongkongHongkong, LiputanIslam.com — Tidak ada terobosan yang dihasilkan dalam perundingan antara delegasi demonstran dengan wakil-wakil pemerintah Hongkong, yang digelar Selasa (21/10) kemarin.

Sebagaimana laporan BBC News, delegasi demonstran berkukuh dengan tuntutannya pada pemilihan umum langsung tanpa campur tangan pemerintah Cina pada pemilihan Kepala Eksekutif (Gubernur otonomi) Hongkong pada tahun 2017 mendatang dan seterusnya. Sementara delegasi pemerintah hanya memberikan harapan bagi dilakukannya perundingan selanjutnya.

BBC melaporkan adanya perbedaan tajam antara delegasi demonstran dan pemerintah Hongkong. Yang pertama beranggotakan 5 mahasiswa berumur 20-an tahun yang mengenakan kaos dan celana jeans dengan tulisan berbahasa Inggris “Freedom Now”. Sementara delegasi pemerintah berusia beberapa puluh tahun lebih tua dengan pakaian resmi berupa jas dan dasi.

Delegasi pemerintah dipimpin oleh Sekretaris Daerah Carrie Lam, seorang perempuan yang menjadi pejabat tertinggi setelah Kepala Eksekutif CY Leung. Sementara di pihak demonstran juga terdapat seorang wanita.

Perundingan dimulai pukul 18.00 waktu setempat, berfokus pada tuntutan para demonstran agar pemerintah mencabut peraturan pemilu yang mewajibkan semua kandidat Kepala Ekskutif untuk menjalani proses “penyaringan” oleh lembaga pemilihan yang dibentuk pemerintah. Tuntutan ini gagal mendapat pemenuhan delegasi pemerintah.

“Sejauh posisi mereka, saya khawatir bahwa kami hanya bisa sepakat untuk tidak saling sepakat,” kata Lam, usai perundingan.

Alex Chow, wakil dari Federasi Pelajar Hongkong dan salah satu tokoh demonstran paling populer, mengatakan bahwa sikap delegasi pemerintah itu sebagai “tidak jelas”.

BBC melaporkan bahwa pada umumnya para demonstran meragukan efektifitas aksi mereka untuk mengubah sikap pemerintah, namun mereka bertekad untuk tetap tinggal di jalanan untuk menyuarakan sikap mereka.

Pertemuan itu berlangsung sehari setelah Pemimpin Ekskutif CY Leung kembali menegaskan penolakannya terhadap tuntutan demonstran. Ia menyebut pemilihan langsung hanya menghasilkan pemerintahan tidak berkualitas yang mewakili kelompok mayoritas yang penghasilannya di bawah standar.

Ia menyebut pemilihan langsung sebagai “permainan angka” dan sistem pemerintahan yang dihasilkan sebagai “perwakilan angka-angka”.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL