Washington, LiputanIslam.com—Pasca teror mematikan di konser musik Las Vegas pada hari Minggu lalu, pengamat dan jurnalis Amerika Dave Lindorff menilai pemerintah AS harus melarang penjualan senjata secara bebas.

Lindorff, yang juga seorang kolumnis di media Counter Punch dan kontributor Business Week, menyatakan hal itu dalam wawancara dengan Press TV pada Senin (2/10/17), setelah terjadinya teror massal di Mandalay Bay Resort dan Kasino, Las Vegas, Nevada. Insiden itu telah menyebabkan setidaknya 58 orang tewas dan 500 lainnya terluka.

Polisi telah mengidentifikasi tersangka bernama Stephen Paddock (64) dari Mesquite, yang menembak dirinya hingga mati.

“Itu penembakan massal paling parah dalam sejarah… Dan ini akan membuat orang mempertanyakan ketersediaan senjata mesin [yang bebas],” kata Lindorff. “Senjata jenis ini benar-benar digunakan di perang untuk pembunuhan massal,”

Dia kemudian mengkritik Nevada yang menurut Newsweek sebagai kawasan dengan aturan penjualan senjata paling longgar.

“Mereka [pemerintah Nevada] tidak mewajibkan orang untuk memiliki izin untuk senjata mereka,” tukasnya. “Jadi, mendapatkan alat itu bukan hanya legal, tapi juga mudah dan tidak terlacak,”

Menurutnya, kelonggaran aturan seperti itu menjadi penyebab insiden terorisme besar-besaran di Las Vegas.

“Di titik ini, publik akan berbuat sesuatu terhadap tidak hanya isu general tentang kepemilikan senjata yang masif di AS, tapi juga senjata mesin,” tutupnya. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL