wanita suku Uighur (foto: irishtimes.com)

wanita suku Uighur (foto: irishtimes.com)

Xinjiang, LiputanIslam.com–Di media sosial banyak disebarkan informasi bahwa kaum muslimin diXinjiang, Tiongkok, diintimidasi penguasa dan bahkan dilarang. Berita ini dibantah oleh Wu Guanrong, deputi direktur di kantor urusan luar negeri di wilayah otonomi Xinjiang.

“Berita yang tersebar di Internet mengenai larangan umat Islam untuk menjalani puasa di bulan Ramadan itu tidak benar. Umat Islam bebas melakukan ibadah sesuai ajaran agama,” kata Wu Guanrong, saat diwawancara Uni Z. Lubis dari rappler.com.

Wu Guanrong juga anggota partai berkuasa di Tiongkok. Menurutnya, semua umat agama di Tiongkok berpegang pada aturan hukum.

Setiap tahun, pemerintah otonomi Xinjiang memberangkatkan sekitar 3.000 jemaah haji. Ini kuota yang ditetapkan pemerintah Arab Saudi bagi penganut agama Islam di provinsi Xinjiang, yang terletak di barat daya Tiongkok.

Xinjiang berbatasan dengan 8 negara, termasuk Khazaktan, Rusia, dan Mongolia. “Mereka membiayai sendiri perjalanan haji itu. Syaratnya ya standar, yaitu punya kemampuan fisik dan mental serta mampu. Pemerintah provinsi memfasilitasi,” kata Wakil Presiden Xinjiang Islamic Institute Alimu Reheman di Urumqi, Minggu, 2 Agustus.

Saat ini ada sekitar 10.000 penganut agama Islam di Xinjiang yang telah melakukan ibadah haji ke Mekkah, Arab Saudi.

Uni Z. Lubis juga mewawancarai orang suku Uighur, Alimu. “Konstitusi Tiongkok secara jelas menyatakan bahwa rakyat di negeri ini bebas memilih agama dan melakukan kegiatan beribadah, sekaligus bebas untuk memilih tidak beragama,” kata Alimu.

Alimu berasal dari suku Uigur, suku terbesar di Xinjiang yang dihuni 55 suku termsuk 13 suku asli: Uighur, Han, Kazakh, Hui, Khalkhas, Mongol, Tajik, Xibe, Manchu, Ozbek, Rusia, Daur, dan Tartar.

Dari suku asli itu, suku Uighur, Khazak, Hui, Tajik, Ozbek dan Tartar mayoritas beragama Islam.

Pemerintah pusat Tiongkok yang dikuasai Partai Rakyat Cina yang berorientasi pada komunis juga membantu dana senilai 250 juta Ren Min Bi (Yuan) atau sekitar Rp 5,5 miliar, untuk membangun kampus baru Xinjiang Islamic Institute yang terletak di kawasan industri tak jauh dari Urumqi yang merupakan ibu kota Xinjiang.

Luas kampus baru itu sekitar 10 hektar, bisa menampung lebih dari 1.500 siswa, dan akan memiliki masjid dengan kapasitas 1.000 jemaah. “Dukungan dari pemerintah pusat dan otonomi termasuk penyediaan tanah,” kata Alimu.

Kampus Xinjiang Islamic Institute saat ini ada di tengah kota dan memiliki sekitar 280 siswa tingkat akademi dan universitas dengan 70-an pengajar. Kampus mulai beroperasi tahun 1987.

Perguruan tinggi ini mendidik calon imam dan khotib untuk mengisi ceramah di masjid-masjid. Di Xinjiang ada lebih dari 24.400 tempat ibadah, termasuk untuk Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan kepercayaan lain seperti Saman. Dari jumlah itu, 24.200 adalah masjid.

“Untuk setiap 300 umat Islam, ada satu masjid. Di tempat baru seperti calon kampus kami, di zona industri, meskipun belum mencapai 200 umat Muslim di sekitarnya, pemerintah memberikan izin juga,” kata Alimu.

Sebanyak 200-300 an umat Islam yang tinggal di sebuah lokasi bisa mengajukan pendirian masjid. (dw/rappler.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL