clintonsWashington DC, LiputanIslam.com — Mantan Menlu dan ibunegara AS yang tengah dijagokan bakal menjadi capres AS mendatang, Hillary Clinton, tengah menjadi sorotan publik setelah menerima sumbangan puluhan juta dolar dari perusahaan-perusahaan dan pemerintahan-pemerintahan asing.

Seperti dilaporkan kantor berita Iran Press TV dengan mengutip laporan The Wall Street Journal (TWSJ), Jumat petang (20/2), sekitar 60 perusahaan AS yang pernah berurusan dengan Hillary selama ia menjadi Menlu tahun 2009 dan 2013 telah menyumbang lebih dari $26 juta atau sekitar Rp 300 miliar untuk yayasan Clinton Foundation.

Perusahaan-perusahaan itu di antaranya adalah General Electric, Exxon Mobil, dan Boeing. Setidaknya 44 dari 60 perusahaan itu terlibat dalam proyek “amal” raksasa senilai $3.2 miliar yang dibentuk oleh suami Hillary, mantan Presiden Bill Clinton.

Selain itu setidaknya 25 perusahaan-perusahaan itu juga menyumbang 15 lembaga kerjasama (LSM) yang dibentuk Clinton dan di bawah koordinasi pemerintah. Hal ini menimbulkan kekhawatiran adanya konflik kepentingan.

Meski belum ada peraturan dan hukum yang dilanggar, hal ini tidak patut, terutama ketika Hillary diketahui tengah mempersiapkan diri untuk maju sebagai capres mendatang. Demikian TWSJ melaporkan.

“Bagi kebanyakan anggota partai Democrat, hubungan Clinton dengan perusahaan-perusahaan itu sangat mengganggu,” kata Jack Pitney, profesor politik dari Claremont McKenna College kepada TWSJ.

Dalam laporan tersebut juga terungkap bahwa sumbangan negara-negara asing terhadap yayasan Clinton meningkat tajam setelah Hillary meninggalkan jabatannya sebagai Menlu. Negara-negara asing penyumbang yayasan Clinton di antaranya adalah Uni Emirat Arab, Saudi Arabia, Oman, Australia, Jerman dan Kanada.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL