Tepi Barat, LiputanIslam.com–Sejumlah jurnalis Palestina dan luar negeri mengalami luka-luka akibat serangan dari tentara Israel di Tepi Barat pada Sabtu (17/11/18) siang.

Serangan ini terjadi di dalam aksi protes melawan kekerasan yang dilakukan rezim Tel Aviv kepada para pekerja pres di kawasan pendudukan.

Tentara Israel menembakkan gas air mata ke kumpulan demonstran jurnalis yang berkumpul di pos pemeriksaan Qalandiya, Yerusalem al-Quds utara. Sejumlah jurnalis internasional ikut serta dalam aksi ini, termasuk anggota International Federation of Journalists dan Arab Federation of Journalists.

Kepala Palestinian Journalists’ Syndicate, Nasser Abu Bakr, termasuk salah satu korban. Dalam demo tersebut, Abu Bakr menuntut para pelaku kekerasan terhadap jurnalis segera ditindak secara hukum.

Ia mengatakan, sejak awal tahun ini, terdapat sekitar 7.000 kasus kekerasan dan kejahatan terhadap jurnalis Palestina oleh militer Israel. Salah satu contoh yang populer adalah jurnalis Ahmad AbuA Hussein dan Yasser Murtaja yang tewas ditembak ketiak sedang meliput aksi demo anti-penjajahan di Jalur Gaza.

Rezim Israel terus menerus berupaya membungkam media yang meliput tindakan kriminal para tentaranya. Salah satu langkah yang mereka ambil adalah dengan mengesahkan RUU untuk menghukum perekaman kegiatan militer tertentu.

Di bawah RUU ini, orang yang ketahuan mengambil foto dan merekam tentara Israel “dengan maksud merusak semangat” para tentara akan dipidana lima tahun penjara. Sementara mereka yang “berniat membahayakan keamanan Israel” dapat dijatuhkan hukuman 10 tahun penjara.

RUU yang dikecam karena dianggap merusak kebebasan media ini harus melewati sejumlah pengambilan suara parlemen supaya menjadi hukum tetap. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*