Tepi Barat, LiputanIslam.com–Sebanyak 55 sekolah di kawasan pendudukan Tepi Barat terancam dihancurkan oleh tentara Israel, di mana banyak bangunan sekolah tersebut dibangun atas dana dari Uni Eropa dan donatur lain.

Salah satu penghancuran terjadi di desa Bethlehem, Palestina, ketika pemerintah Israel melarang warga membuka kelas portabel di rumah-rumah lokal. Tentara Israel pun dilaporkan merazia desa tersebut pada Selasa (23/8/17) dan menghancurkan kelas-kelas.

Menurut laporan media Wafa, razia dilakukan sehari sebelum hari pertama masuk sekolah, dan membuat 64 siswa dari kelas 1 sampai 4 tidak dapat masuk kelas.

Wafa mengutip aktivis lokal Hasan Breijieh bahwa tentara Israel memaksa mengangkut isi kelas ke atas truk dengan alasan tidak mendapat izin dari pemerintah Israel.

Para penduduk lokal kemudian mencoba menghalangi penghancuran tersebut, namun tentara  Israel menembakkan gas air mata dan peluru karet kepada mereka.

Sami Marwa, direktur departemen pendidikan di Bethlehem, mengatakan bahwa sekolah dibangun untuk komunitas kecil di kawasan dan sudah berhasil mengumpulkan 64 siswa. Para guru dan staff telah mempersiapkan hari pertama mengajar sejak Minggu kemarin.

Setelah kejadian tersebut, Dewan Pengungsi Norwegia (NRC) mengeluarkan kecaman kepada Israel bahwa aksi tersebut merupakan “serangan meluas atas pendidikan di Palestina.”

 “Sungguh menyakitkan melihat siswa dan guru memasuki hari pertama sekolah di bawah matahari langusng, tanpa kelas atau tempat terlindungi lainnya, sementara di sekitarnya terdapat pembangunan pemukiman [Yahudi] ilegal yang tak terganggu,” kata Direktur NRC, Itay Epshtain, yang mengunjungi kawasan pagi kemarin. (ra/mintpress)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL