pastedimage-76634-630x419Dublin, LiputanIslam.com — Kegemparan melanda Irlandia setelah munculnya berita tentang keberadaan kerangka ratusan anak-anak di bekas rumah perawatan ibu-ibu tidak menikah yang dijalankan oleh para biarawati.

Laporan keberadaan kuburan massal anak-anak tersebut pertama kali dipublikasikan oleh harian Irish Mail pada hari Minggu (1/6) yang menyebutkan adanya upaya sejarahwan lokal Catherine Corless untuk mencari tempat penguburan massal atas 796 anak kecil yang diduga meninggal di rumah perawatan yang dijalankan oleh kelompok biarawati Sisters of Bon Secours.

Kerangka-kerangka anak-anak yang diduga meninggal antara tahun 1925 hingga 1961 itu diduga berada di dekat sebuah rumah di Tuam, County Galway. Demikian laporan media-media lokal sebagaimana dikutip CNN, Kamis (5/6).

Menurut keterangan Corless kepada “Irish Mail, tempat penguburan massal tersebut diduga terletak di tempat yang tidak bertanda di sebelah bekas rumah perawatan yang pernah berdiri.

Kabar tentang keberadaan “rumah jagal anak-anak” itu sontak menggemparkan warga Irlandia dan tuntutan dilakukannya penyelidikan mendalam atas kasus tersebut pun disuarakan oleh banyak pihak. Kabar tersebut sekaligus juga menjadi pukulan serius bagi institusi Gereja Katholik yang terkait dengan masalah ini.

Menteri urusan anak-anak dan pemuda Irlandia Charlie Flanagan mengatakan kepada wartawan, Rabu (4/6), bahwa “pertimbangan aktif” tengah dilakukan pemerintah untuk menanggapi isu tersebut.

“Banyak dari temuan-temuan tersebut yang sangat mengganggu dan menjadi pengingat yang mengejutkan atas masa lalu kita yang gelap, saat anak-anak kita tidak diperlakukan sebagaimana seharusnya,” kata Flanagan sembari menyebutkan bahwa lemaga-lembaga pemerintah tengah bekerjasama untuk melakukan tindakan terbaik atas masalah ini.

Namun jubir kepolisian Irlandia, Brian Whelan, dalam pernyataan yang diberikan kepada wartawan mengatakan bahwa tidak ada hal yang salah dan polisi tidak melakukan penyelidikan atas masalah tersebut. Ia juga membantah tentang keberadaan kerangka-kerangka di dalam septic tank.

Sementara itu partai oposisi Sinn Fein dan Fianna Fail mendesak pemerintah untuk melakukan penyelidikan yang komprehensif atas masalah tersebut.

“Kabar tengan penemuan kerangka 800 bayi di Tuam telah menggoncangkan warga,” kata ketua Sinn Fein Gerry Adams dalam pernyataan online yang dirilis Rabu (4/6).

Adam memperkirakan kasus penemuan kerangka di Tuam ini hanya sebuah fenomena “gunung es”, dimana angka kematian anak-anak yang tidak wajar, yang sebenarnya terjadi di seluruh Irlandia jauh lebih besar.

Colm Keaveney, anggota parlemen dari partai Fianna Fail mendesak perdana menteri Enda Kenny, untuk melakukan penyelidikan serius atas laporan-laporan tersebut.

Sebuah petisi online yang dirilis oleh aktifis dunia maya di Avaaz.org hari Selasa (3/6) yang menuntut penyelidikan mendalam atas temuan tersebut ditelah didukung oleh ribuan orang.

Pemimpin gereja Katholik di Tuam, Archbishop Michael Neary, menyatakan mendukung langkah pemerintah untuk melakukan penyelidikan atas kasus ini meski hal itu akan melukai banyak ibu yang terlibat dalam masalah ini.

“Saya sangat terkejut sebagaimana yang lain mendengar kabar ini. Saya hanya bisa membayangkan emosi yang dirasakan para ibu yang telah memberikan anak-anaknya untuk diadopsi atau yang menyaksikan kematian-kematian mereka,” kata Neary.

Neary menambahkan bahwa gereja dan penduduk serta kelompok Bon Secours Sisters akan mendirikan monumen di bekas pemakaman massal anak-anak tersebut.

Kasus di Tuam ini bukan kasus pertama yang memperlihatkan bagaimana lemahnya negara dan gereja dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat. Sebuah laporan pemerintah tahun lalu yang disebut sebagai kasus “Magdalen Laundries” menyebutkan bahwa pemerintah telah mengirim wanita-wanita ke rumah-rumah kerja yang dijalankan oleh gereja untuk bekerja tanpa gaji selama bertahun-tahun. Rumah-rumah kerja tersebut aktif berdiri antara tahun 1922 hingga 1996.

Selain karena perintah pengadilan, wanita-wanita yang dikirim tersebut sebagaian adalah ibu-ibu yang tidak menikah, korban pemerkosaan, anak yatim, dan wanita-wanita cacat fisik maupun mental.

Tahun ini kisah Philomena Lee yang selama puluhan tahun berusaha mencari anaknya yang menjadi korban adopsi paksa tahun 1950-an, menjadi inspirasi film nominasi Oscar. Lee juga mendirikan Philomena Project yang tujuannya mendorong pemerintah Irlandia dan Amerika untuk membuka catatan-catatan tentang adopsi.(ca/cnn)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL