iran indonesia 2Jakarta, LiputanIslam.com — Kerjasama perdagangan antara Iran dan Indonesia telah menurun dalam dua tahun terakhir. Dalam situs resmi Kementerian Perdagangan tercatat, nilai perdagangan antar dua negara turun dari USD 1,25 miliar menjadi USD 568 juta. Untuk itu, Dubes Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, mendampingi delegasi Iran bertemu dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Dian mengaku memaparkan potensi kerja sama perdagangan yang bisa dijalin dengan Iran. Antara lain di sektor migas, produk petrokimia, industri berteknologi tinggi seperti teknologi nano, stem cell. “MoU dengan perdagangan selama ini berhenti, saya mau aktifkan lagi,” kata Dian.

Dari laporan merdeka.com, Dian memaparkan adanya banyak kesalahpahaman masyarakat dunia tentang Iran. Utamanya setelah pemberlakuan sanksi PBB terhadap Iran yang tidak mau menghentikan proyek nuklirnya.

“Kita nilai Iran dalam sanksi, tidak bisa berbuat apapun, tidak bisa dagang, tidak bisa kirim turis, tidak bisa kerja sama budaya. Persepsi itu tidak akurat, negara lain bisa tuh ke Iran. Malaysia, Singapura, nilai perdagangannya (dengan Iran) lebih dari kita. Filipina, Thailand, Vietnam bisa melebihi kita,” jelas Dian.

Menurutnya, Iran memiliki semua yang dibutuhkan Indonesia. Terutama minyak dan gas. Wajar saja, Iran adalah salah satu negara produsen migas terbesar dunia. Tidak itu saja, Iran juga bisa ikut mengembangkan infrastruktur nasional.

“Impor setengah kebutuhan (migas) kita. Indonesia mau apa, refinary? Iran bisa ikut membantu, infrastruktur? Iran lagi mau kembangkan. Kita butuh jalan, kita butuh gas dan air. Iran punya kemampuan itu. Di Iran, air sampai kampung itu pipa, gas masuk, tidak ada lagi tabung gas 3 KG. Kita ingin trans sumatera, Iran bisa berpartisipasi. Di bidang ristek banyak nganggur, kita mau berdayakan itu,” papar Dian.

“Kalau dalam perdagangan, kita menawarkan kertas, sawit karet,” imbuh Dian.

Dian menyinggung kerja sama antara Indonesia dengan Angola yang sudah beranjak ke tahap nilai kerja sama dan teknis. Sementara dengan Iran, baru sebatas wacana dan MoU yang belum terealisasi dalam bentuk kerja sama nyata.

“Dengan Angola bisa datang dengan angka-angka, dengan Iran belum. Persepsi kita, masih takut. Migas memang berada di bawah sanksi tapi bisa disiasati. Impor minyak luar itu ada minyak Iran, tapi dari pihak ke 3. Kita ingin direct trade. Kita yang masih khawatir,” ungkap Dian.

Maju Mundur Kerjasama Indonesia – Iran

Jauh hari sebelumnya, rencana pembangunan kilang telah dimulai dari pertemuan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan mantan Presiden Iran Ahmadinejad, yang sedianya akan dibangun di Bojanegara, Banten, bekerja sama dengan Pertamina.

NIORDC direncanakan memiliki 40 persen saham dalam perusahaan patungan, sementara PT Banten Bay Refinery yang akan membangun kilang. Sisanya 40 persen dikuasai Pertamina dan 20 persen perusahaan Malaysia, Petrofield.

Pembangunan kilang tersebut telah mendapat persetujuan Ditjen Migas Kementerian ESDM pada 27 Mei 2008 dan Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 27 November 2008.

Lantas, pada 11 Februari 2014, perusahaan minyak Iran Nakhle Barani Pardis dan PT Kreasindo Indonesia meneken nota kesepahaman senilai USD 3 miliar atau sekitar Rp36,3 triliun untuk pembangunan kilang berkapasitas produksi 300,000 barel/hari di Indonesia. Dan setelahnya, Kepala Persatuan Eksportir Produk Minyak, Gas dan Petrokimia Iran Hassan Khosrojerdi menyatakan Iran berencana membangun enam kilang minyak di Indonesia. Namun, sampai saat ini, pembangunan kilang tersebut belum terwujud.

jk-ulama-syiah-iran

JK Bersama Ketua Dewan Masjid Iran

JK Siap Bayar Utang

Dewan Masjid Iran juga turut menyambangi JK, guna menagih utang. Menurut penjelasan Dian, dulu JK pernah berjanji akan berkunjung ke Iran, saat ia masih berstatus Ketua Dewan Masjid Indonesia.

“Ini sebenarnya masalah pending, Pak JK punya utang ke Iran. Pihak Iran minta beliau berkunjung. Saya minta konfirmasi kapan bisa berkunjung, Wapres bersedia, waktunya ditentukan,” ujarnya.

Meskipun menyanggupi untuk membayar utang dengan berkunjung ke Iran, lanjut Dian, JK belum menyebutkan tanggalnya. “Harus siap di sini dan di sana,” jelasnya.

Sekedar informasi, pada tahun 2013 lalu, Ketua Dewan Masjid Iran Muhammad Javar Ali Akbari menemui JK, guna membahas mengenai peluang kerja sama untuk kemajuan masjid di kedua negara.

Terkait tata kelola masjid, JK mengatakan terdapat persamaan antara pengelolaan masjid di Indonesia dan di Iran, bahwa masyarakat berperan besar di dalamnya.

Dewan Masjid Iran Ajak Buat Wiki Mosque

Selain membicarakan kunjungan JK ke Iran, rombongan Dewan Masjid Iran juga mengungkapkan gagasan kerja sama membuat literatur masjid-masjid di dunia termasuk di Indonesia dan Iran.

“Mereka ada gagasan. Indonesia kan Sunni terbesar dan Iran itu Syiah terbesar, kenapa kita tidak bisa kerjasama, misalnya bikin yuk buku tentang masjid-masjid di dunia,” ucap Dian.

Literatur tersebut akan dibuat dalam bentuk situs internet layaknya wikipedia, mengingat apabila dibuat dalam bentuk buku, maka akan terlalu tebal dan menyulitkan pembaca.

“Buku kan tebal, kenapa tidak website, wiki mosque. Ketik masjid keluar sejarah dan lokasinya Itu gagasan yang dibawa mereka,” tuturnya (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL