john keyAuckland, LiputanIslam.com — Perdana Menteri Selandia Baru John Key meminta ma’af kepada seorang pekerja kafe perempuan di kota Aucland setelah insiden ‘tarik rambut’ yang dilakukannya. Ia berdalih tindakannya sebagai ekspresi ‘persahabatan’.

Seperti dilaporkan BBC News, Rabu petang (22/4), John Key mengatakan kepada para wartawan bahwa ia memiliki ‘hubungan yang sangat baik dan bersahabat’ dengan pekerja kafe tersebut, dan ia telah meminta ma’af atas tindakannya itu. Hal itu menyusul kecaman publik terhadapnya setelah insiden ‘tarik rambut’ itu terbongkar ke publik.

Seorang pekerja kafe yang tidak menyebutkan namanya menulis di sebuah Daily Blog bahwa Key telah berulangkali melakukan tindakan tersebut, bahkan meski ia telah memintanya untuk menghentikannya. Insiden ini mengundang kecaman keras publik, terlebih dari kubu oposisi.

Menurut wanita itu, kebiasaan menarik rambut itu dimulai sejak November 2014 lalu ketika dalam masa kampanye yang mengantarkan John Key dari National Party terpilih kembali sebagai perdana menteri.

Ia mengatakan, ia telah berusaha menghindarkan diri setiap kali Key datang ke kafenya. Ia juga memberitahu petugas keamanan bahwa ia tidak menyukai tindakan Key terhadapnya. Ia bahkan telah mengatakan langsung kepada Key bahwa ia tidak menyukai tindakan tersebut. Namun Key tidak mempedulikannya.

Key dalam pernyataanya mengatakan bahwa tindakan tersebut untuk menunjukkan kedekatan dan tidak dimaksudkan untuk membuat wanita itu tidak nyaman, dan ia telah meminta ma’af kepadanya dan menghadiahi 2 botol sampanye.

“Kami sering bermain-main di sana, ada banyak lelucon dan hal-hal lain di sana,” katanya kepada wartawan.

Namun ketua Partai Hijau Metiria Turei mengatakan tindakan tersebut menimbulkan pertanyaan tentang masalah ‘pelecehan di tempat kerja’.

“Sebagai politisi kita berkewajiban membuat para pekerja merasa nyaman di tempat kerjanya, tidak membullinya. Kita harus menetapkan standar perilaku yang lebih tinggi kepada perdana menteri kita, bukan dengan aksi tarik rambut yang menyakitkan ini,” kata Turei kepada The New Zealand Herald.

Aksi perdana menteri itu menjadi perbincangan populer di New Zealand hingga munculnya ‘hashtag-hastag’ seperti #tailgate dan #ponytailgate di Twitter.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL