foto: merdeka

foto: merdeka

Kotabaru, LiputanIslam.com — Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menyatakan sudah saatnya nelayan tangkap dan nelayan budidaya Indonesia menjadi swadaya dan swasembada di bidang perikanan, karena untuk penyediaan pakan ikan, semua bahan bisa tersedia di Indonesia.

“Kalau terus impor akan menjadi beban yang sangat besar bagi nelayan,” ujarnya dalam dialog dengan nelayan di Desa Sigam, Kotabaru.

Selama ini, pakan ikan dan beberapa peralatan budidaya ikan yang digunakan nelayan merupakan produk impor, sehingga butuh biaya yang cukup besar karena terpengaruh dengan nilai dolar untuk membelinya.

“Kalau nilai dolar Amerika sampai tembus Rp15 ribu per dolar, bagaimana nasib nelayan, mau makan apa untuk keluarga, karena harus memikul beban yang begitu besar,” kata dia.

Dari laporan antaranews.com, Susi mengimbau para nelayan mau belajar dalam segala hal terkait pencaharian sebagai nelayan, seperti membuat kreativitas dalam pembuatan pakan ikan, begitu juga dengan filter atau penyaring, jadi tidak perlu impor.

“Sebenarnya bahan apapun dalam penyediaan pakan ikan semuanya lengkap tersedia di sekitar kita, tinggal bagaimana kreativitas dan belajar. Contohnya dengan mengoptimalkan hasil laut, seperti rumput laut dan cangkang kerang bisa bikin bahan pakan alami,” tandasnya.

Susi menilai, pemakaian bahan lokal dan alami lebih menjamin ketersediaan dan lebih bersinambungan. Sehingga, lanjut Susi, lebih baik menggunakan bahan alami dan ramah lingkungan.

“Kita minta kepada kementerian agar tidak membuat program yang menggunakan banyak rekayasa, sehingga masyarakat hanya menggantungkan pada rekayasa tersebut, akibatnya jika sistemnya gagal karena terbatasnya kapasitas, maka akan gagal panen dan nelayan rugi. Maka kembalikan pada sistem alam, jauh lebih baik,” ujarnya.

Susi mencontohkan mencontohkan budidaya kerang, yang cangkangnya bisa dibuat tepung bahan pakan.

Sementara itu, Dirjen Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, Slamet Subagiyo, menambahkan pakan ikan yang digunakan para nelayan budidaya Indonesia selama ini masih didominasi produk-produk impor, dengan komposisi 75 ribu ton per tahun, sedangkan produk dalam negeri hanya sekitar 45 ribu ton per tahun.

“Fakta di lapangan, saat ini bahan tepung ikan untuk pakan dalam negeri masih lebih kecil dibanding tepung produk impor, untuk itu kita akan memperbanyak tepung dalam negeri dan mengurangi impor untuk pakan,” ujar Slamet.

Dengan komposisi tersebut, lanjut dia, pemerintah menargetkan tahun depan produk tepung dalam negeri akan ditingkatkan hingga 50-60 ribu ton, untuk mengurangi dominasi pemakaian tepung impor.

“Upaya tersebut akan terus ditingkatkan sampai satu saat tepung ikan dalam negeri lebih banyak dan dominan dari impor, karena jika melihat keunggulan produk sebenarnya untuk ketahanan ikan lokal, tentunya lebih bagus dengan produk lokal karena kandungannya cenderung alami dan kaya dengan nutrisi nabati,” katanya.

Hal itu, katanya, tentu sesuai dengan habitat aslinya ikan lokal, sedangkan kandungan tepung impor belum tentu sesuai dengan kebutuhan ikan lokal. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL