Foto: Detik

Foto: Detik

Bandar Lampung, LiputanIslam.com –Tak lulus SD, tapi omzet perbulan tembus 7 miliar, itulah yang dialami oleh Supar, pengusaha tepung tapioka di sebuah Desa Negeriketon, Lampung. Di desa inilah ia mulai membangun ‘kerajaan’ bisnisnya sejak 15 tahun lalu.

“Saya nggak lulus SD,” kata Supar kepada Detikfinance di rumahnya, Rabu 18 Juni 2014.

Meski tidak lulus SD, naluri bisnisnya ditempa dengan belajar membuat pengolahan tepung tapioka. Pada awal memulai bisnis, Supar sempat terkendala modal sehingga mencari utang ke BRI pada 1999 sebanyak Rp 5 juta. Kini omzet bisnis tepung tapiokanya berlipat ganda.

“Saya memproduksi tepung tapioka 70 ton hingga 100 ton per hari dengan omzet Rp 7 miliar per bulan,” kata Supar.

Untuk bahan baku singkong, Supar memiliki perkebunan singkong seluas Rp 10 hektar. Guna memproduksi puluhan ton singkong itu, Supar dibantu  puluhan buruh, dan dengan beberapa traktor yang digunakan untuk mengeringkan limbah. Sebuah  pabrik juga telah siap mengolah tepung tapioka.

“Sekarang mendapat pinjaman BRI sebesar Rp 5 miliar,” ujar Supar.

Alhasil, pabrik Supar tidak hanya menjadi tumpuan keluarga tetapi juga puluhan petani singkong di desa itu. Atas kerja kerasnya ini, Supar mendapat penghargaan dari Menteri ESDM Jero Wacik karena berhasil  mengolah hasil limbah singkong.

“Penghargaan dari Pak Menteri karena mengubah limbah singkong menjadi biogas,” tutur Supar.

Kini, perusahaan Supar telah  membuat badan hukum CV  untuk menjalankan bisnisnya. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL