Foto: Al-Alam

Foto: Al-Alam

Al-Quds, LiputanIslam.com — Puluhan ribu warga Palestina di wilayah al-Quds (Yerusalem) selama tiga bulan hidup tanpa air mengalir – kendati badan hak asasi manusia mengecam atas diberhentikannya pasokan air oleh perusahan air milik Israel.

Hagihon, perusahaan air di Yerusalem, menghentikan pasokan air ke beberapa daerah yang diduduki di bagian Timur al – Quds, seperti Shu’fat Refugee Camp, Ras Khamis, Ras Sh’hadeh dan Dahiyat a- Salam, sebagaimana pernyataan dari B’Tselem, Pusat Informasi HAM Israel di wilayah pendudukan. Naas, kamp-kamp itu letaknya terisolasi dari seluruh kota.

Menurut B’Tselem, beberapa rumah tangga di kamp-kamp tersebut “telah benar-benar terputus dari pasokan air” sementara beberapa keluarga yang lain “kadang-kadang menerima air”.

“Alasan terputusnya pasokan, dikarenakan tekanan air dalam pipa sangat rendah sehingga air tidak mencapai kran,”tambahnya.

Akibatnya, berkisar 60.000 hingga 80.000 rakyat  Palestina dibiarkan tanpa pasokan air yang teratur. Mereka itu terus berusaha mencari air di kamp-kamp. Tidak ada pilihan selain membeli air kemasan dan membatasi konsumsi air mereka, baik untuk minum, mandi maupun mencuci. Apa komentar mereka terkait hal ini?

“Setiap minggu, saya membawa anak-anak ke rumah keluarga saya di Ras al- ‘ Amud untuk mandi. Kami pergi dengan bus selama satu jam untuk sampai ke sana,” kata Linda Abu Rajeb kepada B’Tselem, dan dilansir Al-Alam (31/5/2014).

Pada tanggal 25 Maret 2014, warga setempat, tokoh masyarakat dan Badan Asosiasi untuk Hak-Hak Sipil di Israel ( ACRI ) telah menulis petisi kepada Pengadilan Tinggi Kehakiman Israel atas kelalaian pihak yang telah memutus pasokan air untuk puluhan ribu orang. Petisi tersebut menyatakan, “Ini adalah krisis kemanusiaan pada tingkat dasar, melanggar hak [manusia] atas air, martabat dan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan bayi, lansia, orang sakit dan penyandang cacat.”

Foto: Suara Al-Azhar

Foto: Suara Al-Azhar

Menurut ACRI, infrastruktur air di daerah itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan 15.000 orang, sementara jumlah warga di kamp-kamp tersebut lebih dari 80.000 orang.

Lalu, setelah konflik berdarah yang menjalar di kawasan Timur Tengah, masihkah ada yang peduli kepada Palestina?

Seruan Syeikh Muhammad al-Ghazali [dikutip dari Suara Al-Azhar]

“Saya menuliskan ini saat para penduduk sekitar Masjidil Aqsa sedang bersedih dan berduka, mereka melarat karena dirampas harta bendanya, mereka dibuang terlantar di jalanan, mereka diserang oleh peluru dan roket di rumah mereka, mereka mencari kedamaian yang tak akan mereka temukan. Segala kecemasan itu terjadi hanya karena seorang anak Yahudi mati terbunuh, dan pemerintah Israel harus membalaskan dendamnya kepada rakyat Palestina.

Di sisi lain, seorang anak Palestina keluar dari rumahnya dan tidak kembali setelah satu minggu. Belakangan diketahui bahwa tentara Israel telah membunuhnya hanya karena ia berjalan di daerah yang (katanya) terlarang. Saya bertanya dalam hati, “Kenapa murah sekali nyawa anak itu? Dan kenapa tidak ada orang yang marah karena hal ini?”

Saat anak Palestina mati semua terdiam, namun saat anak Israel mati maka bumi bergetar dan peluru berkeliaran.

Pertanyaan saya tadi tidak membutuhkan jawaban, karena saya tahu jawaban pastinya. Yaitu karena bangsa Arab-lah yang telah menyedekahkan darah bangsa Palestina, yang menghilangkan hak-hak mereka, bahkan mereka menyemangati bangsa Israel untuk terus menjajah mereka.

Peremehan mereka terhadap Islam menjadikan mereka terpecah menjadi kelompok-kelompok yang saling berseteru. Tidak mengherankan jika mereka telah tamak pada harta dunia, dan tidak mengherankan jika kekuatan mereka telah hancur digerogoti rayap.

Bangsa Yahudi datang ke tanah Palestina dari berbagai negara. Mereka telah meninggalkan tanah kelahirannya, melupakannya, dan tidak menyesalinya. Mereka kini telah bersatu, merasakan sebuah kehidupan baru, dengan persaudaraan satu akidah, satu aturan Taurat dan Talmud, satu cita-cita untuk membangun kuil tuhan di bawah dinding-dinding Masjidil Aqsa, dan satu tujuan menguasai dunia.

Sedangkan umat muslim masih sibuk dengan dunia mereka. Mereka mengutamakan persaudaraan darah ketimbang persaudaraan akidah, mendahulukan panggilan maslahat daripada panggilan akhirat, dan sibuk dengan ketamakan para pemimpin yang merampas hak rakyatnya. Kemanapun pandanganmu kau arahkan, kamu hanya akan melihat perpecahan dan perselisihan.

Kenapa kita harus menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan sendiri?
Apakah kita akan terus seperti ini? Maukah kita berusaha agar Allah merubah keadaan kita? Gelombang ini telah membawa kita menuju kehancuran, dan tidak ada yang akan selamat kecuali orang yang Allah selamatkan.

Akankah bendera Islam akan kembali naik dan berkibar di angkasa? Atau kita akan tetap begini, tertindas di bawah bendera lain, terjerumus ke dalam jurang?

Donasi untuk Palestina bisa disalurkan melalui:

BNI Syariah, 081.119.2973

BSM, 700.135.2061

BCA, 686.015.3678

BMI, 301.00521.15

BRI, 033.501.0007.60308

an. Medical Emergency Rescue Committee

Atau melalui:

iB Hasanah Card dari BNI Syariah

Hubungi BNI Call Center 500046

Jakarta, 27 Februari 2014

Divisi Humas

MER-C INDONESIA

(ba/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL