Menteri Perikanan, Susi Pudjiastuti (foto:tempo)

Menteri Perikanan, Susi Pudjiastuti (foto:tempo)

Jakarta, LiputanIslam.com–Sosok Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, terus menjadi buah bibir. Selain menjadi trending topic di Twitter, nama Susi juga didiskusikan oleh para pengguna media sosial lainnya, termasuk Facebook. Pro-kontra mewarnai perdebatan publik terkait menteri pilihan Presiden Joko Widodo ini.

Pihak yang kontra Susi umumnya mengkritik perilakunya yang anti-mainstream, semisal merokok di Istana Negara pada hari pengumuman kabinet, bertato, dan pendidikan yang tak tamat SMA. Akun Sri W mengkritisi perilaku Susi karena khawatir ditiru anak muda. “Anak itu tukang meniru, jika kita melakukan kebaikan maka dia akan melakukannya,” tulisnya. (baca: Susi, Kandidat Menteri Lulusan SMP)

Sebaliknya, pendukung Susi mengagumi kegigihannya. Seperti celetukan seorang netizen, Yuli Rm “Saya suka gayanya. Nggak basa-basi, cuek dan ya, karena dia tipe pekerja keras. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa sesukses itu ya.

Para pendukung Susi pun menyebar ulang sebuah tulisan lama karya Dahlan Iskan, Mantan Menteri BUMN yang berjudul ‘Susi Tetap Di Hati’, dimuat di Jawa Pos pada 13 September 2011. Dalam tulisan itu Dahlan mengaku sangat terkesan kepada Susi. Dahlan pertama kali mengenal Susi saat terbang dengan Susi Air dari Dobo di Maluku Tenggara. Saat itu Dahlan mengira Susi adalah karyawan biasa.

“Dia bertindak seperti petugas ground dan ketika ikut terbang di psesawat itu dia yang melayani penumpang. Saya kagum ketika akhirnya tahu dialah bos besar Susi Air. Orangnya cekatan, cerdas, antusias, bicaranya blak-blakan, suaranya besar, agak parau, dan sangat tomboi, ” tulis Dahlan.

Di bagian lain, Dahlan menulis, “Susi sangat bangga menjadi wanita Sunda yang lahir dan besar di Pangandaran, pantai selatan Jabar, yang bisa menjadi bos dari begitu banyak orang asing. Dia juga begitu bangga bisa mengabdi untuk republik dengan pesawat-pesawatnya. Baik sebagai jembatan daerah terisolasi maupun saat menjadi relawan waktu tsunami. Dia juga begitu bangga dengan desa kelahirannya, sehingga kantor pusat Susi Air dia pertahankan tetap di Desa Pangandaran yang jauh dari Jakarta. Termasuk di desa itu pula pusat pelatihan pilot dan peralatan simulasinya yang canggih.” (baca:Dua Menteri Ini Dikritik Aktivis)

“Dari Pantai Pangandaran memang Susi jadi orang. Yakni, ketika awalnya dia mulai mencoba menampung udang hasil tangkapan nelayan di desanya yang kualitasnya begitu tinggi. Lalu dia kirim ke Jakarta. Lalu dia ekspor. Lalu dia mengalami kesulitan karena tak ada sarana yang bisa mengangkut udang Pangandaran dengan cepat dan dalam keadaan masih hidup sudah tiba di Jakarta atau Singapura. Lalu, demi udang nelayan Pangandaran itu dia sewa pesawat. Lalu beli pesawat. Lalu beli lagi dan beli lagi hingga mencapai 38 buah. Lalu bikin perusahaan penerbangan,” kisah Dahlan.

Secara khusus Dahlan berterima kasih kepada Susi karena berkat pesawatnya, Dahlan bisa berkunjung ke daerah-daerah terpencil.

“Saya begitu sering menggunakan jasa Susi Air. Banyak rute yang penerbangan lain tidak mau, dia terbangi. Misalnya, Jakarta-Cilacap. Atau Medan-Meulaboh. Atau antarkota kecil di Papua. Sebagai orang yang kini harus memikirkan listrik sampai ke seluruh pelosok negeri yang terpencil, saya ikut berterima kasih kepada Susi,” tulis Dahlan. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL