Bashar_al-Assad_(cropped)Syria memberikan “garis merah” yang tidak bisa ditawar dalam perundingan internasional Genewa II, yaitu posisi Bashar al Assad sebagai presiden Suriah. Demikian pernyataan Menlu Suriah Walid al-Muallem menjelang perundingan hari ini (22/1).

“Tidak ada yang boleh menyentuh kepresidenan!” kata Muallem dalam pernyataanya yang dikutip kantor berita SANA menjelang kedatangan delegasi Suriah di Swiss, kemarin (21/1).

Muallem menambahkan bahwa delegasi Suriah akan melakukan semua langkah untuk meyakinkan bahwa perundingan Genewa II akan membuahkan hasil positif.

“Kami berkomitmen untuk bekerja demi kesuksesan konperensi ini sehingga bisa menjadi langkah awal bagi dilakukannya dialog antara rakyat Suriah di bumi Suriah,” tambah Muallem.

Namun Muallem mengkritik penyelenggaran konperensi yang tidak memanggil kelompok oposisi yang bermarkas di Damaskus, National Coordination Committee for Democratic Change (NCC), yang selama ini dianggap sebagai oposisi konstruktif oleh pemerintah Suriah dengan menolak aksi militer dan intervensi asing. Menurut Muallem hal itu menunjukkan bahwa PBB telah menyerah pada tekanan barat.

Delegasi oposisi SNC, Menlu Rusia Sergey Lavrov, Menlu Amerika John Kerry, serta ketua kebijakan luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton, dan Menlu Inggris William Hague dipastikan telah tiba di Swiss kemarin.

Berbagai pihak menyayangkan ketidakhadiran Iran dalam perundingan tersebut. Menlu Rusia Sergei Lavrov kemarin bahkan mengkritik langkah Sekjen PBB yang membatalkan undangan terhadap Iran dan menyebutnya sebagai “kesalahan yang tidak termaafkan” dan menyebut perundingan sebagai “hiprokit”. Namun membawa delegasi pemerintah dan oposisi duduk dalam meja perundingan dianggap sebagai langkah yang sangat positif.(CA/Press TV)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL