RismaSurabaya, LiputanIslam.com–Mengelola sampah di kota besar, bukan perkara mudah. Pertambahan penduduk dan peningkatan aktivitas yang demikian pesat di kota-kota besar, telah mengakibatkan meningkatnya jumlah sampah disertai permasalahannya. Diprakirakan paling banyak hanya sekitar 60% – 70 % yang dapat terangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh institusi yang bertanggung jawab atas masalah sampah dan kebersihan, seperti Dinas Kebersihan. Bagian sampah yang tidak terangkut tersebut ditangani oleh masyarakat secara swadaya, atau tercecer dan secara sistematis terbuang ke mana saja.

Namun, Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, berhasil menangani masalah pelik ini. Risma memiliki pendekatan bagus dalam memotivasi warganya, seperti membangun rumah kompos dan menjadikan sampah sebagai sumber listrik.

Risma mengatakan, keberhasilan Pemkot Surabaya dalam pengelolaan sampah tidak lepas dari peran aktif dan kepedulian warga Kota Surabaya. Dia menjelaskan, di Surabaya ada banyak fasilitator lingkungan mulai ibu-ibu rumah tangga, hingga kalangan pelajar.

Apalagi, Pemkot melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan, menggagas lomba kebersihan lingkungan seperti Surabaya Green and Clean dan Merdeka dari Sampah yang pesertanya merupakan warga antar kampung.

“Warga Surabaya sadar bahwa sampah ternyata bisa menghasilkan uang, membuat lingkungan lebih indah dan sehat. Warga juga jadinya lebih rukun karena memiliki komitmen yang sama,” ujar Risma.

Untuk itu, kata Risma, kepedulian warga terhadap pengelolaan lingkungan berjalan selaras dengan upaya Pemkot Surabaya untuk mewujudkan Surabaya menjadi kota yang hijau, sejuk dan asri.

‘’Hasilnya, saat ini Surabaya memiliki luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 26 persen. Angka itu telah naik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,’’ ujarnya.

Saat Risma masih menjabat kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya,  RTH di Surabaya masih sembilan persen kemudian perlahan naik menjadi 12 persen. Ia menargetkan luas RTH dapat bertambah menjadi 35 persen.

Ini sesuai amanat Undang-Undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang mensyaratkan RTH pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota. RTH terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat. ”Proporsi RTH publik pada wilayah kota paling sedikit 20 (dua puluh) persen dari luas wilayah kota,” ujar Risma.

Risma menegaskan, “Saya ingin luas RTH di atas 30 persen, sehingga suhu Surabaya turun yang semula 34 derajat celcius menjadi 32 derajat celcius. Selain menambah taman, kami juga mengupayakan pembuatan waduk,” ujarnya.

Selain mengembangkan RTH, pihaknya juga mengelola lingkungan dengan mengembangkan urban farming sehingga Surabaya dapat mengirimkan sayur mayur produksi Surabaya hingga keluar pulau seperti Palembang, Sumatra Selatan dan Pulau Kalimantan.

Dengan indahnya kota dan bagusnya pengelolaan sampah, jumlah pengunjung ke Surabaya meningkat. Terhitung hingga Mei 2013, sedikitnya ada 20 kapal pesiar yang berkunjung ke Surabaya. ‘’Jadi dengan kota yang indah, mengundang banyak tamu,’’ ujar Risma semringah. (dw/Republika)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*