solidaritas-anti-kekerasan_663_382Sleman, LiputanIslam.com — Aksi penyerangan dan kekerasan yang terjadi di Yogyakarta akhir-akhir ini, telah mengusik ketentraman warga dan dinilai telah mencederai Yogya sebagai daerah yang dikenal “Kota Toleransi”.

Sebagai upaya untuk mencegah aksi kekerasan terjadi di Yogyakarta, Kepolisian dan Pemda DIY pun menandatangani MoU penghentian kekerasan fisik. MoU yang ditandangani oleh Kapolda DIY Brigjen Pol Haka Astana, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Danrem 072 Pamungkas dan Kejati DIY, disaksikan tokoh masyarakat dan Agama ini digelar di Mapolda DIY, Kamis (5/6).

Kapolda DIY Brigjen Pol Haka Astana mengatakan, MoU penghentian kekerasan fisik ini merupakan bagian dari penanganan konflik sosial di DIY. Tujuanya untuk menjaga agar DIY tetap kondusif.

“Dengan MoU ini diharapkan ke depan ego sektoral dapat dieliminir dan keunggulan masing-masing sektor dapat dipadukan,” kata Haka Astana di Mapolda DIY.

Kesepakatan bersama penghentian kekerasan ini mencakup antara lain, penghentian kekerasan fisik, penyelamatan terhadap korban, membatasi area konflik, dan mencegah terulangnya konflik.

Sementara terkait kasus penyerangan dan kekerasan di perumahan STIE YKPN Ngaglik, Sleman, Polisi masih memburu dua pelaku berinisial AS dan BH. Untuk kasus perusakan tempat ibadah di Pangukan Sleman, polisi akan melakukan pemanggilan terhadap salah satu warga yang merupakan pelaku dan diduga provokator.(ca/detiknews)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL