recep-tayyip-erdoganLiputanIslam.com — Di era modern ini, tidak ada lagi tempat bagi para diktator. Satu demi satu, para diktator pun bertumbangan secara menyakitkan. Tidak hanya itu, mereka pun meninggalkan legasi yang tidak menyenangkan, yang bahkan harus diderita oleh keluarga dan keturunannya.

Masih belum lama berselang ketika 4 orang diktator Timur Tengah, Ben Ali, Mubarak, Khadaffi, dan Ali Abdullah Saleh, tumbang dari kekuasaannya dengan menyakitkan. Khadafi bahkan harus tewas secara tragis dan Mubarak harus menghabiskan sisa hidupnya di dalam tahanan.

Lalu bagaimana dengan seorang pemimpin yang justru ingin meniru nasib mereka?

Orang itu adalah Perdana Menteri Turki Recep Tayyep Erdogan. Ia baru saja memblokir situs jejaring sosial populer Twitter dan berjanji akan memblokir situs sosial populer lainnya, Facebook dan Youtube setelah pemilihan umum lokal akhir bulan ini. Dan itu semua masih belum seberapa dengan tindakan-tindakan tidak populer lainnya yang telah dilakukannya.

Ia sudah memenjarakan ratusan orang karena alasan politik meski, ditutup-tutupi dengan proses pengadilan. Kasus Ergenekon yang telah membuat ratusan orang, termasuk panglima AB Turki Jendral Ilker Basbuk, masuk penjara. Tgl 8 Maret lalu, sang Jendral pun dibebaskan setelah Mahkamah Konstitusi menyatakan tuduhan terhadap dirinya tidak terbukti. Namun para kolega Jendral Ilker Basbug, di antaranya pejabat birokrat, wartawan, akademisi, dan puluhan perwira militer dan inteligen, masih mendekam dalam penjara. Meski bias, kasus ini berhasil “menyingkirkan” militer dari panggung politik Turki, yang menjadi batu sandungan rezim Erdogan.

“Mereka yang bertindak berdasarkan dendam dan kebencian telah mencuri 26 bulan hidup saya,” kata sang jendral menuduh rezim Erdogan, ketika keluar dari penjara Silivri, 8 Maret lalu.

Ketika aparat keamanan akhir tahun lalu melakukan penangkapan besar-besaran terhadap kroni-kroni Erdogan karena dugaan korupsi, Erdogan pun langsung memecat ratusan polisi dan jaksa yang terlibat dalam penyidikan kasus tersebut. Lebih jauh, ia bahkan memaksakan UU yang merenggut independensi lembaga penyidikan menjadi lembaga yang berada di bawah kontrol pemerintah. Ia yang didukung para politisi dari Partai Keadilan juga “berhasil” memaksakan UU yang memungkinkan pemerintah memblokir situs-situs internet yang dianggap “membahayakan”. Yang terakhir ini telah memakan korban, situs jejaring sosial populer Twitter.

Tunggu dulu, itu belum semuanya. Akhir tahun lalu Erdogan juga berhasil “memaksakan” UU yang memungkinkan pemerintah membubarkan ribuan sekolah swasta yang dianggap tidak sesuai dengan program-program pendidikan pemerintah. Untuk yang satu ini Erdogan berhasil menghancurkan basis dukungan “musuh” politiknya yang paling potensial, Gerakan Gulenis yang dipimpin tokoh spiritual Fethullah Gulen.

Pertengahan tahun lalu, Erdogan memerintahkan aparat keamanan untuk menindak keras aksi damai di Lapangan Thaksim hingga beberapa orang tewas dan luka-luka. Ketika salah seorang korban aksi kekerasan polisi, seorang remaja belasan tahun, akhirnya meninggal dunia setelah koma selama berbulan-bulan dan akhirnya memicu aksi demonstrasi besar-besaran menentang Erdogan, tanpa “sungkan”, Erdogan menuduh remaja tersebut sebagai “teroris”. Sementara terhadap Gulen, seorang tokoh senior Turki yang dihormati oleh jutaan pengikutnya, Erdogan tidak sungkan menyebutnya sebagai “manusia sesat”.

Erdogan tidak hanya telah menanam benih-benih permusuhan di negerinya sendiri, sekutu-sekutunya di luar negeri, Amerika dan Uni Eropa, mulai meninggalkannya karena cap negatif sebagai tokoh “anti-demokrasi” yang terlanjur melekat pada dirinya. Para pejabat Amerika, PBB dan Eropa pun ramai-ramai mengecam keras tindakannya terhadap para demonstran di Lapangan Thaksim. Sekutu utamanya di dalam negeri, Presiden Abdullah Gul, juga telah berulangkali mengisyaratkan perpecahan dengannya. Gul mengkritik UU sensor internet yang diinisiasi oleh Erdogan. Tentang penutupan Twitter, Gul pun mengatakannya sebagai “tidak bisa diterima” dan berharap “tidak berumur lama”.

Dengan kekuasaannya, Gul bisa mengeluarkan dekrit yang membatalkan semua produk hukum yang diinisiasi Erdogan. Mungkin tidak akan efektif sepenuhnya karena Erdogan masih menguasai birokrasi pemerintahan. Namun dengan popularitas yang jauh berkurang dan banyaknya lawan-lawan politik potensial yang dihadapi, baik kelompok oposisi, aktifis “civil society”, militer hingga Gulenis, Erdogan dipastikan akan “habis” oleh perlawanan Abdullah Gul, atau oleh kudeta militer, sebagaimana sekutu strategisnya, Presiden Mohammad Mursi di Mesir.

Saat ini rezim Erdogan tengah “memainkan” isu tempat pemakaman Suleyman Shah yang bersejarah di Suriah. Beberapa pejabat Erdogan telah mengeluarkan ancaman untuk melakukan invasi ke Suriah dengan alasan melindungi kompleks pemakaman Suleyman Shah, pendiri Dinasti Usmaniah Turki, yang berada 25 km sebelah selatan perbatasan Turki-Suriah di Provinsi Aleppo.

“Itu adalah tanah Turki. Angkatan Bersenjata kita mesti memastikan keamanannya. Jika perlu, operasi mungkin jadi pembahasan, tapi itu takkan berskala besar” kata seorang menteri kabinet Erdogan kepada media massa Turki, Jumat (21/3).

Makam Suleyman Shah, yang berada di Kota Aleppo di Suriah, dekat perbatasan Turki, dianggap sebagai Wilayah Turki, menurut Kesepakatan Ankara. Kesepakatan itu dicapai antara Prancis dan Turki pada 1921, ketika Suriah berada di bawah kekuasaan Prancis. Daerah seluas 25 kilometer tersebut kini dijaga oleh tentara Turki dan bendera Turki dikibarkan di sana. Suleyman Shah adalah kakek dari Osman I, pendiri Usmaniyah (Ottoman). Makam itu dibangun pada akhir Abad 13.

Ancaman Turki untuk melakukan intervensi demi melindungi makam Suleyman Shah didasarkan pada ancaman penghancuran terhadap makam itu setelah wilayah tempat makam itu berada telah jatuh ke dalam kekuasaan kelompok takfiri Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL), yang terkenal dengan kegemarannya melakukan penghancuran situs-situs bersejarah. Makam tersebut masih dijaga oleh satu regu pasukan Turki, namun jumlahnya sangat tidak berarti dibanding ISIL.

Di tengah-tengah tekanan yang kini dihadapi Erdogan, tindakan Erdogan melakukan intervensi ke Suriah, mungkin akan membuyarkan tekanan tersebut. Namun publik tentu tidak terlalu bodoh untuk tidak menyadari motif tersebut sehingga apapun yang dilakukan Erdogan tidak memberikan dampak politik apapun.

Kini, kita hanya bisa berharap terjadi “keajaiban” yang bisa membuat Erdogan akan melalui pemilu lokal akhir bulan ini dengan kepala tegak. Atau, sebaliknya, ia akan mengikuti nasib sahabat seperjuangannya, Mohammad Mursi di Mesir.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL