Washington, LiputanIslam.com—Sebuah penelitian menunjukkan bahwa AS telah menghabiskan dana sekitar $6 triliun untuk perang yang membunuh setengah juta orang sejak peristiwa 9/11.

Penelitian bernama “Costs of War” ini dilakukan oleh Watson Institute for International and Public Affairs dari Universitas Brown. Studi ini dirilis pada Rabu (14/11/18) kemarin.

Hasil penelitian diambil berdasarkan data-data pengeluaran militer AS dan akun Overseas Contingency Operations, serta “pembelanjaan perang dari Departemen Luar Negeri, pengeluaran wajib untuk perawatan veteran perang, bunga atas utang yang dikeluarkan untuk membayar perang, dan biaya pencegahan dan tanggapan untuk terorisme oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri.”

“Amerika Serikat berkewajiban mengeluarkan dana sekitar $ 5,9 triliun untuk perang melawan teror (war on terror) melalui Tahun Fiskal 2019,” tulis studi tersebut. “Singkatnya, biaya tinggi dalam perang telah menimbulkan kekhawatiran bagi keamanan nasional… Publik lebih baik dilayani dengan meningkatkan transparansi dan mengembangkan strategi komprehensif untuk mengakhiri perang dan memprioritaskan keamanan nasional yang mendesak.”

Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan George W. Bush melancarkan ‘perang melawan teror’ terhadap Afghanistan pada 7 Oktober 2001 pasca serangan teroris 11 September 2001 yang menewaskan hampir 3.000 orang di New York.

Setelah serangan 9/11, AS dan sekutu-sekutunya menyerang dan menduduki Afghanistan, kemudian Pakistan. Pada awal 2003, AS menyerang Irak dengan dalih bahwa rezim Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal.

Studi “Costs of War” menemukan bahwa militer AS menyerang 76 negara, atau sekitar 39 persen dari seluruh negara di dunia. Operasi-operasi ini juga disertai dengan pelanggaran hak asasi manusia dan kebebasan sipil, baik di dalam maupun di luar negeri.

Perang melawan teror telah menewasakan 507.000 orang di Irak, Afghanistan dan Pakistan, dan lebih 500.000 lainnya di Suriah sejak 2011.

Para peneliti mengakui bahwa jumlah korban tewas yang sebenarnya mungkin lebih tinggi dari apa yang tertulis. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*