Indonesian Finance Minister Sri Mulyani Indrawati speaks during a news conference in JakartaJakarta, LiputanIslam.com — Direktur Pelaksana Bank Dunia Sri Mulyani mendapat teguran di persidangan kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) dan dana talangan ke Bank Century untuk terdakwa Budi Mulya. Ia ditegur ketika meneguk air dari botol air mineral berukuran kecil.

“Saudara saksi, di sidang tidak boleh minum,” ujar hakim Afiantara di Gedung Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Jumat (2/5).

Mendapat teguran tersebut, Sri Mulyani meminta maaf kepada hakim. Dia mengaku baru menyadari botol air mineral tidak boleh masuk ke ruang pengadilan.

“Saya tidak pernah ikut sidang (sebelumnya),” ujar Sri.

Afiantara lantas menjelaskan bahwa saksi bisa melepas dahaga. Namun, harus dilakukan di luar ruang sidang.

Sri Mulyani mendatangi Gedung Tipikor mengenakan blazer batik berwarna cokelat. Dia memasuki ruang sidang dengan pengawalan pagar betis petugas Kepolisian. Ratusan petugas ikut mengawal persidangan yang mengagendakan kesaksian Sri Mulyani ini. Dalam kasus ini, Sri Mulyani disebut sebagai saksi kunci.

Sebelumnya, jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi mendakwa Budi Mulya bersama-sama Boediono, yang kini menjabat Wakil Presiden, serta sejumlah pejabat bank sentral lainnya melakukan korupsi dalam pemberian FPJP kepada  Century. Kebijakan  itu disebut merugikan keuangan negara Rp 689,39 miliar. Sedangkan proses penetapan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik merugikan negara Rp 6,7 triliun.

Saya Bisa Mati Berdiri  
Sementara itu dalam sidang terungkap bahwa Sri Mulyani mengalami kekesalan karena dana talangan ke Bank Century terus bertambah. Dia bahkan sampai melontarkan pernyataan “bisa mati berdiri” bila dana talangan terus-terusan membengkak.

“Kalau angkanya meloncat-loncat seperti itu saya bisa mati berdiri,” kata Sri Mulyani saat bersaksi untuk terdakwa mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya.

Dalam dakwaan Budi Mulya, Sri Mulyani disebut berperan memimpin rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada 21 November 2008 yang menetapkan Bank Century sebagi bank gagal berdampak sistemik. Karena penetapan ini, Century mendapat dana talangan sebesar Rp 6,7 triliun yang dicairkan dalam empat tahap. Komite itu dipimpin Menteri Keuangan Sri Mulyani. Adapun salah satu anggotanya adalah Gubernur Bank Indonesia Boediono.

Angka yang dimaksud Sri Mulyani adalah posisi rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) Bank Century yang menurun drastis dari angka ketika ditetapkan sebagai bank gagal berdampak sistemik pada Jumat dinihari, 21 November 2008. Pada saat rapat penetapan itu, kata dia, BI menyajikan data per 31 Oktober 2008 dengan posisi CAR minus 3,53 persen. Namun pada Senin, CAR Century turun drastis menjadi minus 35,95 persen.

Akibatnya, dana talangan yang pada saat rapat  KSSK Century diputuskan hanya sebesar Rp 632 miliar agar posisi CAR mencapai  8 persen, membengkak. Karena CAR menurun, akhirnya Lembaga Penjamin Simpanan mengucurkan dana talangan Rp 1,7 triliun.

Dana itu terus bertambah menyusul laporan dari manajemen baru Century bahwa surat-surat berharga milik bank itu macet,  serta adanya beberapa masalah kredit fiktif dan kredit macet. Pada akhirnya LPS harus mengucurkan dana Rp 6,7 triliun ke Bank Century dalam beberapa tahap.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL