pesantren-lirboyoJakarta, LiputanIslam.com — Para calon presiden dan calon anggota legislatif sowan ke kiai untuk membuat jalan pintas kepada konstituennya. Musababnya, selama ini kebanyakan calon tak terjun langsung dalam kehidupan konstituen. Demikian pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Abdul Gaffar Karim mengatakan, kemarin (1/4).

“Kiai-lah yang menjadi penghubung antara calon legislator atau presiden dengan pemilih,” kata Gaffar.

Dewan Ahli Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama ini menilai cara para petinggi partai dan kandidat sowan ke pesantren tidaklah efektif. Peran kiai, kata dia, kini tak sesakral dulu. “Kajian mutakhir menyebut, terhadap pilihan politik, santri tak lagi bergantung kepada kiai,” tambahnya.

Berbeda, Zannuba Ariffah Chafsoh menganggap masih ada potensi mendulang suara di kantong-kantong NU. Yenny Wahid, begitu dia kerap disapa, mengatakan akses media dan preferensi, khususnya untuk pesantren salafi, masih lemah. Sehingga, banyak santri itu menyerahkan pilihannya ke kiai.

Yo wis, opo sendiko kiai mawon (yasudah, apa kata kiai saja),” kata putri Presiden Indonesia keempat, Abdurrahman Wahid itu.

Menurutnya, kampanye calon legislator di pesantren akan lebih efektif ketimbang pilihan presiden. Musababnya, para santri jarang melihat para caleg di media. “Berbeda dengan calon presiden. Yang ini, santri lebih sulit diarahkan,” kata dia.

Kiai, kata dia, pasti akan menerima siapapun calon legislator, petinggi partai, dan presiden yang datang ke kediamannya. “Namanya juga tamu, pasti minta doa,” katanya. Namun tak sampai di situ. “Minta dukungan ke kiai itu otomatis,” kata dia.

Yenny juga tak menutup kemungkinan adanya politik transaksional antara kiai dan calon. “Ini stigma negatif dari segelintir saja,” kata dia. Di beberapa pesantren, kata dia, memang fenomena seusai pemilihan kepala daerah kiai tiba-tiba memiliki mobil mewah baru.

Yang lebih banyak, adalah pola-pola perjanjian jika calon yang didukung terpilih pesantren lalu menagih komitmennya. Baginya, pola ini wajar dan tak hanya bagi kiai. “Ini kan namanya aspirasi. Bukan transaksional,” katanya.(ca/tempo.co)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*