foto: antara.com

foto: antara.com

Tasikmalaya, LiputanIslam.com–Mungkin banyak yang masih ingat kisah Joko Supratpto, pria asal Nganjuk, Jawa Timur mengumumkan penemuan bahan bakar ‘Blue Energy’ yang terbuat dari air. Temuan Joko telah diapresiasi pemerintah pada November 2007. Presiden SBY sempat mengundang Joko ke kediamanannya di Puri Cikeas untuk menjelaskan Blue Energy. Sebuah tim yang dipimpin Heru Lelono, selaku staf Khusus Presiden SBY, menindaklanjuti dengan membangun infrastruktur produksi yang dibangun di Cikeas, Bogor dengan kapasitas produksi 10 liter per detik. Namun tiba-tiba Joko menghilang dan entah dimana ia kini.

Sejumlah kalangan menilai bahan bakar dari air adalah hoax dan tidak ilmiah.

Namun, beberapa waktu lalu, siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs) Persis Cempakawarna, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, menciptakan kompor berbahan bakar air. Siti Khodijah, satu siswi penemu kompor air, mengatakan penelitian dilakukan selama 1,5 bulan dengan pendampingan guru Ilmu Pengetahuan Alam, Heru Pamungkas.

“Penelitian dimulai sebelum puasa, 5 Juni sampai 20 Agustus 2013,” kata Siti ketika ditemui di sekolah, Senin, 26 Agustus 2013. “Selain air, kami menggunakan soda api, limbah kaleng minuman ringan atau limbah aluminium.”

Cara kerja kompor ini, Siti menjelaskan, sampah aluminium dipotong kecil-kecil dan dicampur dengan soda api serta air. Campuran bahan itu kemudian dimasukkan ke dalam wadah tertutup yang telah dimodifikasi. “Diaduk hingga menghasilkan reaksi eksoderm dan muncul gas hidrogen,” kata dia.

Hidrogen yang dihasilkan dialirkan dengan selang, lalu disimpan di tempat yang telah dipasangi keran. Jika ingin dipakai, keran tinggal dibuka, gas pun akan mengalir ke kompor atau smawar. “Cara menyalakan smawar, disulut pakai korek api,” kata Siti. Selama soda api, aluminium, dan air tersedia di dalam wadah, maka selama itu pula hidrogen akan terus dihasilkan dan bisa dipakai memasak.

Api yang dihasilkan dari proses pembakaran kompor air tidak berwana merah maupun biru, namun warnanya putih. Api ini pun tidak menyebabkan bekas gosong di wajan tempat memasak. Sebab, sumber bahan bakarnya air. Siti dan siswa penemu kompor air lainnya berharap hasil temuan itu bisa dipakai masyarakat luas. “Kompor air diharapkan bisa mengatasi persedian bahan bakar minyak yang terus berkurang,” ujar Siti.

Guru pendamping penelitian, Heru Pamungkas, mengatakan kompor air akan didaftarkan sebagai karya ilmiah dalam Lomba Penelitian Ilmiah Remaja Tingkat Nasional. Namun, menurut Heru, masih ada beberapa hal yang perlu disempurnakan dari kompor air itu. “Kompor air sangat bermanfaat sebagai energi alternatif. Jadi, masyarakat tidak akan ketergantungan kepada keterbatasan suplai bahan bakar minyak maupun elpiji,” ujar Heru.(dw/tempo)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL