gmd-contract-growth-possibilitiesWashington, LiputanIslam.com — Sebuah sistem pertahanan udara AS senilai $40 miliar atau lebih dari Rp400 triliun, dinyatakan mubazir dan tidak seperti yang diharapkan.

Menurut laporan investigasi LA Times pekan ini, sistem pertahanan udara Ground-based Midcourse Defense (GMD) yang telah dioperasikan sejak tahun 2004, ternyata tidak memberikan hasil yang diharapkan. Sistem persenjataan ini terbukti tidak berguna setelah menghabiskan $40 miliar untuk pembuatannya.

Namun demikian otoritas pengembangan senjata rudal AS, Missile Defense Agency (MDA) berencana akan menggelar ujicoba yang ke-9 yang akan menentukan apakah program tersebut dilanjutkan atau dihentikan.

Menurut LA Times selama uji coba sistem pertahanan udara itu lebih sering gagal menembak jatuh sasarannya daripada keberhasilannya.

“Sepuluh tahun setelah dinyatakan siap operasi dan setelah serangkaian ujicoba, senjata itu ternyata tidak bisa diandalkan. Bahkan dalam ujicoba yang paling sederhana dari kondisi perang sebenarnya, senjata itu gagal,” kata pakar senjata David Willman.

Pernyataan-pernyataan pejabat tentang senjata itu sebagaimana dikemukakan David, telah dilebih-lebihkan dari kenyataannya.

GMD telah dikembangkan sejak tahun 1999, namun 50% dari ujicoba gagal menembak jatuh sasaran. Kemudian sistem tersebut diperbaharui hingga dinyatakan siap operasional tahun 2004. Namun dari 8 kali ujicoba yang digelar selama 10 tahun, sebanyak 5 kali mengalami kegagalan.

Uji coba penentuan nasib sistem persenjataan itu akan digelar tanggal 22 Juni mendatang.

Saat ini AS telah mengoperasikan 30 unit sistem persenjataan yang dirancang untuk melawan rudal-rudal Korea Utara dan Iran. Jika sukses kemungkinan akan ditambah lagi jumlahnya menjadi 34 unit. Namun jika gagal, dipastikan pendanaan bagi pengadaan senjata ini akan dihentikan.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL