bukuParis, LiputanIslam.com — Para pendukung Presiden Perancis Francois Hollande mengungkapkan kemarahannya, setelah mendapat sang Presiden mendapat “serangan” tajam dari mantan pasangan hidupnya, yang mengungkapkan hal-hal buruk tentang kehidupan Hollande dalam buku yang ditulisnya, “Merci Pource Moment”. Demikian laporan BBC News, Jumat (5/9) petang.

Dalam buku yang dirilis hari Kamis (4/9) itu, Valerie Trierweiler mengungkapkan bahwa sang Presiden adalah seorang yang tidak berperasaan yang tidak menyukai orang-orang miskin.

Menteri Energi Segolene Royal, mengatakan bahwa tuduhan dalam buku itu sebagai “absurd”. Sedangkan Manuel Valls, perdana menteri yang baru diangkat kembali setelah mengundurkan diri, mengecamnya sebagai “serangan yang keterlaluan”.

Dalam bukunya itu Trierweiler merujuk pada kicauan yang dikirimkannya mendukung pesaing Segolene Royal dalam pemilu lokal yang memicu kritikan dari pendukung-pendukung Hollande.

Menurut Trierweiler, semua kecaman yang dilakukan para pendukung Hollande telah mendapatkan restu dari Hollande.

“Hollande sendiri yang memberi ijin untuk “membunuh” (saya)!” tulisnya.

Hubungan kedua pasangan kumpul kebo itu berakhir Januari lalu setelah media massa membongkar hubungan Hollande dengan artis Julie Gayet.

“Dalam hitungan jam pada bulan Januari 2014, hidup  dan masa depan saya hancur berkeping-keping,” tulisnya merujuk pada kabar perselingkuhan Hollande dengan Gayet.

Namun tulisan paling menjengkelkan Hollande dan pendukung-pendukungnya, sebagaimana dilaporkan BBC, adalah tentang Hollande yang dianggap tidak berperasaan yang membenci orang-orang miskin.

“Ia, pemimpinnya orang-orang kiri (sosialis) menyebut orang-orang miskin sebagai “manusia tidak bergigi”, sangat bangga dengan kebiasaannya mengejek orang,” tulis Trierweiler lagi.

Kecaman paling keras dari pendukung Hollande atas tulisan tersebut datang dari Thierry Mandon, yang menyebut Trierweiler telah melecehkan profesi kewartawanan dengan menuliskan “gosip pengadilan yang berharga untuk supermarket”.

Sedangkan pemimpin partai ultra-nasionalis Marine Le Pen menyebut buku tersebut sebagai “pelecehan bagi Perancis”.

Hollande sendiri belum berkomentar tentang buku itu. Namun koran Le Parisien melaporkan bahwa Hollande telah mengirim pesan kepada seorang temannya, mengatakan terkejut dengan isu buku itu.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL