Teroris ISIS asal Indonesia

Teroris ISIS asal Indonesia

Jakarta, LiputanIslam.com — Bergabungnya warga Indonesia dalam kelompok Negara Islam Irak dan Suriah, disinyalir bukanlah sesuatu yang tiba-tiba. Hal itu diungkapkan oleh pengamat Intelijen, Wawan Purwanto. Menurutnya, proses itu telah berlangsung sejak lama.

“Sebetulnya itu bukan hal baru karena itu sudah ada yang mengkoordinasi untuk melakukan itu. Dan mereka ada yang mendanai juga, baik dari dalam dan dari luar,” tukas Wawan.

Dan, apa sanksi bagi WNI yang terlibat sebagai milisi atau tentara di negara lain?

“Kalau dia menjadi milisi di negara lain atau terikat perjanjian menjadi tentara di satu negara, ini bisa kehilangan kewarganegaraan. Undang-undang kewarganegaraan ada klausul-klausul mengenai itu,” ujar Wawan, Kamis, 31 Juli 2014 seperti dikutip Tribunnews.com.

Wawan mengatakan, salah satu metode untuk mencegah WNI bergabung dengan ISIS adalah dengan pendekatan persuasif mengenai kewarganegaraan.

“Oleh karenanya kita mengajak mereka ini berpikir ulang lah bergabung dalam barisan seperti itu,” lanjut Wawan.

Arab Saudi, dan Dukungan Terhadap Terorisme

Prof. James Petras, dari Binghamton University, AS mengungkapkan keterlibatan Arab Saudi dalam membiayai jaringan teroris di seluruh dunia. Dalang dari jaringan teror Saudi itu adalah Bandar bin Sultan, yang mempunyai hubungan lama dan ikatan kuat dengan para pejabat tinggi politik, militer, dan intellijen Amerika Serikat.

Menurutnya, Bandar dilatih dan di doktrin di Maxwell Air Force Base dan Universitas Johns Hopkins. Ia juga menjadi Duta Besar Saudi untuk Amerika Serikat selama dua dekade (1983-2005). Antara 2005-2011 ia adalah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan pada 2012 ia ditunjuk sebagai Direktur Jendral Agen Intellijen Saudi. Inilah awal mula Bandar asyik tenggelam dalam operasi teror rahasia.

Bukti paling nyata dari jaringan teror Bandar dalam skala besar jangka panjangnya adalah, ia membiayai, mempersenjatai, melatih dan mengirimkan ribuan “relawan” teroris Islam dari AS, Eropa, Timur-Tengah, Kaukasus, Afrika Utara dan di tempat lain.

Teroris Al-Qaeda dari Saudi Arabia dijadikan “syuhada Islam” di Suriah. Puluhan kelompok-kelompok Islam bersenjata di Suriah, berkompetisi demi dana dan persenjataan dari Saudi. Basis-basis pelatihan didirikan di Yordania, Pakistan dan Turki. Bandar juga mendanai kelompok-kelompok ‘pemberontak’ utama teroris bersenjata di negara Islam Irak dan kawasan Mediterania, untuk operasi lintas batas.

Sedangkan KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani, dari Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU, pada April lalu, menyatakan bahwa dana Arab Saudi telah masuk ke Indonesia dalam jumlah besar untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia.

“Tiga bulan kemarin, saat rapat di PBNU, saya ketahui bahwa jumlah untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia itu mencapai angka 500 miliar. Tapi berselang dua minggu kemudian, ternyata sudah berubah menjadi 1,2 atau 1,3 triliun untuk satu provinsi,” ungkapnya.

Seperti diketahui bersama, para jihadis yang beroperasi di berbagai negara, seperti Al-Qaeda dan affiliasinya, merupakan penganut ideologi Wahabi Takfiri. (ba)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL