LiputanIslam.com — Slogan-slogan seperti “tekad dan ketegasan” yang digembar-gemborkan oleh media Saudi adalah upaya yang dilakukan untuk menutupi berbagai serangan teroris yang terjadi di kerajaan sepanjang taun 2015.

Sepanjang 2015, terjadi beberapa kali serangan terhadap masjid-masjid di Saudi. Namun yang menjadi target utama, adalah masjid-masjid yang biasa digunakan oleh penganut mazhab Syiah. Di Saudi, jumlah penganut Syiah mencapai 15%, dan sebagian besar berada di Provinsi Timur.

Berikut ini adalah daftar serangan mematikan yang terjadi di Saudi:

Tanggal 22 Mei 2015, terjadi serangan di Masjid Imam Ali, Qatif pada saat dilangsungkannya shalat Jumat. Setika jamaah tengah melakukan rakaat pertama, bom tiba-tiba meledak hebat. 20 orang gugur, dan sekitar 70 orang mengalami luka-luka.

Pelaku bom bunuh diri bernama Abu Ali Al Zahrani. Melalui media sosial, ISIS mengklaim bahwa Al Zahrani adalah salah satu anggotanya yang ditugaskan untuk melakukan serangan tersebut.

Seminggu setelahnya, pada 29 Mei 2015, bom kembali meledak di Masjid Al Anoud, Dammam, yang telah merengut nyawa Al Arbasy dan Al Isa, berikut 2 orang lainnya.

ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Pelalu pengeboman adalah anggotanya bernama Abu Jandal Al Jizrawi. Dengan bangga, ISIS menganggap serangan ini berhasil karena meskipun pengamanannya ketat, namun mereka tetap bisa masuk ke lokasi.

Tanggal 6 Agustus 2015, serangan kembali terjadi di sebuah masjid di kompleks militer di Asir. Serangan ini memakan korban seabnayak 15 orang, yang sebagian besar adalah anggota dan calon anggota pasukan khusus kerajaan.

Melalui media sosial, ISIS mengkalim bahwa serangan itu adalah serangan terhadap ‘monumen kemurtadan’. “Dia (pelaku bom bunuh diri) mampu menyusup penjaga keamanan dan mencapai kumpulan kejahatan di dalam sebuah kamp pelatihan di Abha wilayah Asir, tempat kekuatan ledakan menyebabkan kematian dan mencederai puluhan lainnya,” ungkap pernyataan yang mengaku berasal dari ISIS.

Tanggal 17 Oktober 2015, kembali terjadi serangan di kota Saihat, Arab Saudi. Saat itu, jamaah Muslim Syiah tengah melakukan ibadah. Laporan saksi mata menyebutkan, ada tiga bersenjata yang dtang ke lokasi, dan melepaskan tembakan. Lima orang gugur dalam serangan itu, dan serangan ini pun, ISIS mengaku dalangnya.

Tanggal 27 Oktober 2015, kembali terjadi ledakan bom bunuh diri di kota Najran. Serangan ini menyebabkan tiga orang gugur, dan 19 orang mengalami luka-luka. Menurut saksi mata, pelaku memasuki masjid, dan ledakan terjadi tak lama setelahnya. Melalui media sosial, ISIS mengumumkan bahwa mereka menargetkan Ismaliliyah, yaitu salah satu sekte Syiah yang minoritas di Saudi.

Tragedi Mina

Tragedi Mina 2015 merupakan salah satu insiden paling berdarah dalam sejarah haji. Menurut Associated Press, sekitar 2.121 nyawa telah melayang. Sedangkan The Independent menyebut bahwa pemerintah Saudi bertanggung jawab terhadap insiden itu.

Saudi berusaha membela diri, dan menuduh bahwa tragedi itu terjadi karena kesalahan jamaah haki itu sendiri. Namun saksi mata menyebut bahwa pihak pengamanan Saudi adalah orang-orang yang tidak berkompeten, tidak terlatih, yang tidak mampu mengendalikan situas. Selain itu, ada laporan yang menyebutkan bahwa tragedi itu terjadi karena penutupan jalan yang dilakukan oleh askar Saudi saat muncul iring-iringan dari Pangeran Mohammad bin Salman.

Anggran Saudi yang Menipis

Pada akhir Desember, Saudi mengumumkan aggaran negara yang minus 80 miliar dollar. Kondisi ini belum pernah terjadi sebelumnya.
The Independent melaporkan bahwa Saudi terpaksa menjual saham-saham keluarga untuk menutupi dampak dari anjloknya harga minyak. Sementara Saudi membutuhkan dana besar untuk berperang di Yaman dan Suriah. Menurut The Independent, Saudi sangat merugi dengan kebijakannya memproduksi minyak dalam jumlah yang melimpah.

Ketimpangan ekonomi seperti ini, mau tak mau telah memaksa Saudi untuk memberlakukan aturan baru, seperti mencabut subsidi BBM dan menaikkan pajak.

Seri Eksekusi Berdarah

Saudi menutup 2015 dengan kegagalan ekonomi dan seri eksekusi berdarah. Amnesty Internasional mengataka bahwa eksekusi tahun 2015 menempati angka tertinggi selama 20 tahun terakhir.

Ada 150 orang yang dieksekusi sepanjang tahun 2015. Dan mengawali tahun 2016, Saudi mengeksekusi 47 orang, termasuk Syaikh Nimr Baqir Al Nimr. Eksekusi Syaikh Nimr ini semakin meningkatkan ketegangan antara Saudi dan Iran, yang berujung pada pemutusan hubungan diplomatik.

The Sunday Times menyebut, selama setahun pemerintahan Raja Salman ini, adalah salah satu tahun terburuk dalam sejarah Kerajaan Saudi.

Baca bagian pertama: Setahun Pemerintahan Berdarah Raja Salman. (ba)

—-

Artikel ini disarikan dari tulisan Isra Al Fass di Al Manar (15/1/2016)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL