panitia nobelOslo, LiputanIslam.com — Ketua Panitia Nobel Perdamaian Thorbjoern Jagland, dipecat dari jabatannya setelah berulangkali terlibat kontroversi pemilihan pemenang hadiah Nobel Perdamaian.

Seperti dilansir Russia Today, Rabu (4/3), pemecatan itu menjadi yang pertama kalinya dalam sejarah Panitia Nobel Perdamaian selama 114 tahun. Thorbjoern Jagland, mantan perdana menteri Norwegia, dianggap kontroversial dalam penetapan pemenang hadiah nobel pertamaian, termasuk atas Presiden AS Barack Obama dan Uni Eropa.

Jagland telah menjabat sebagai ketua Panitia Nobel selama 6 tahun sebelum sebelum dipecat hari Selasa (3/3). Selanjutnya ia hanya menjadi anggota panitia biasa dan jabatan ketua kini dipegang oleh wakilnya, Kaci Kullmann Five, mantan ketua partai konservatif Norwegia.

“Ada sebuah panitia baru dengan anggota-anggota baru dan orang-orang baru akan membuat pertimbangan-pertimbangan baru,” kata Kullmann Five kepada jurnalis.
Tiga dari enam penerima hadian Nobel Perdamaian yang dipilih Thorbjoern Jagland telah mengundang kontroversi, yaitu Barack Obama tahun 2009, Uni Eropa tahun 2012 dan aktifis anti-pemerintah Cina Liu Xiaobo tahun 2010.

Ketika Obama menerima hadiah Nobel Perdamaian tahun 2009, ia baru menjabat sebagai Presiden AS selama beberapa bulan dan selama kepemimpinannya AS justru lebih banyak terlibat perang. Panitia Nobel memuji Obama ‘atas usaha-usahanya yang luar biasa untuk memperkuat kerjasama dan diplomasi antar umat manusia’, sementara pada saat yang sama AS tengah terlibat perang di Irak dan Afghanistan dan melancarkan perang drone di Pakistan, Yaman dan Somalia. Selama 6 tahun pertama memimpin AS, Obama telah membom 7 negara.

Pemilihan Uni Eropa sebagai penerima Nobel Peramaian tahun 2012 juga mengundang kontroversi yang tidak kalah hebat. Penerima Nobel Perdamaian Desmond Tutu dan 2 penerima Nobel lainnya membuat surat terbuka mengkritik keputusan itu.

“Uni Eropa sanat jelas bukan ‘pejuang perdamaian’ yang ada di pikiran Alfred Nobel saat ia menuliskan wasiatnya,” demikian surat tersebut.

“Panitia Nobel Norwegia telah membuat definisi baru dan membuat model baru hadiah Nobel sedemikian rupa sehingga tidak konsisten dengan hukum.”

Sedangkan pemberian hadiah Nobel kepada Liu Xiaobo membuat hubungan diplomatik Norwegia dengan Cina runtuh seketika setelah Cina membekukan hubungan diplomatik kedua negara.

Namun penggantian Jagland tetap menimbulkan pertanyaan tentang seberapa besar pengaruh politik dalam kriteria penerima hadiah, karena penggantinya ternyata juga seorang politisi.

Anggota Panitia Nobel Perdamaian dipilih oleh parlemen Norwegia berdasar ‘peta politik’ negara itu. Partai-partai kanan yang memenangkan pemilu tahun 2013 kini diwakili oleh 3/2 anggota panitia. Penggantian Jagland menjadi konsekuensi perubahan ‘peta politik’ itu.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*