teror xinjiang4Urumqi, LiputanIslam.com — Kawanan yang disebut pemerintah Cina sebagai teroris, menubrukkan 2 mobil dan melemparkan granat ke tengah-tengah kerumunan pasar di Urumqi, hari ini (22/5), menewaskan 31 orang dan melukai puluhan orang lainnya. Demikian laporan kantor berita Cina Xinhua.

Pemeirintah Cina menyebutnya sebagai “insiden kekerasan teroris”.

Urumqi adalah ibukota Proivinsi Xinjiang, yang merupakan wilayah Cina yang paling banyak penduduk muslimnya. Selama ini wilayah ini paling sering terjadi ketegangan sektarian antara penduduk suku Uighur yang muslim dengan warga etnis Han yang merupakan etnis mayoritas di Cina.

Pemerintah Cina selama ini mengklaim telah mengucurkan banyak dana untuk membangun Xinjiang, namun sebagian warga Uighur menuduh pemerintah telah menindas mereka.

Polisi telah meningkatkan keamanan di kota ini untuk mencegah terjadinya kerusuhan etnis.

“Saya tidak berani turun karena takut. Hanya saya yang tinggal di rumah saat itu. Saya mendengar ledakan pertama, seperti petir. Kemudian terdengar lagi ledakan kedua, ketiga hingga ke-empat, kemudian asap mengepul dan semua orang di bawah berlarian. Ambulan datang segera, kemudian mobil-mobil polisi. Lebih banyak ambulan lagi, pemadam kebakaran dan mobil-mobil polisi datang dalam waktu 30 menit,” kata seorang saksi mata sebagaimana dikutip Xinhua.

Menyusul insiden tersebut sebuah pesawat penumpang dari Shanghai yang hendak mendarat di Urumqi, dialihkan ke Nanjing karena alasan keamanan.

Organisasi warga keturunan Uighur, World Uyghur Congress, mendesak pemerintah Cina untuk menahan diri dengan tidak melakukan tindakan keras terhadap warga Uighur di Xinjiang.

Kepada BBC jubir kelompok ini bahkan menuduh aksi-aksi kekerasan di Xinjiang adalah akibat kebijakan pemerintah Cina sendiri.

Selain tindakan keamanan di Xinjiang, pemerintah Cina juga meningkatkan keamanan di beberapa area di ibukota Beijing.

Jumlah penduduk Uighur di Xinjiang mencapai 45%, sedang etnis Han mencapai 40%. Pada tahun 2009, terjadi kerusuhan etnis antar keduanya yang menewaskan 200 warga.

Cina mengambil alih kekuasaan di Xinjiang tahun 1949 dari pemerintahan Turkestan Timur. Sejak itu terjadi migrasi besar-besaran warga Han ke wilayah yang tadinya berpenduduk Uighur itu.

Selama bertahun-tahun masalah di Xinjiang ini telah berbuntut aksi-aksi kekerasan di Cina. Minggu ini saja pemerintah Cina baru memenjarakan 39 orang yang dituduh terlibat dalam jaringan terorisme.

Menurut pengadilan, salah satu yang dijebloskan ke penjara itu adalah warga berumur 25 tahun yang telah mempostingkan komentar berbau kekerasan di media sosial. Seorang lainnya adalah ayah yang memuji-muji tindakan kekerasan anaknya.(ca/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL