Foto: Kompas

Foto: Kompas

Jakarta, LiputanIslam.com – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  memberikan pidato kenegaraan terakhir di gedung DPR, hari ini, Jumat, 15 Agustus 2014. Pidatonya mengungkap klaim keberhasilan pemerintahannya,  hingga permintaan maaf atas kesalahannya selama menjadi pemimpin.

SBY mengklaim salah satu  keberhasilannya adalah menurunkan angka kemiskinan selama masa kepemimpinannya. Namun demikian, target yang disasarnya adalah angka 0 persen kemiskinan absolut di Indonesia.

“Kita dapat menarik napas lega, karena sejak 2004, angka kemiskinan terus menurun, walaupun sempat ada masa angka tersebut meningkat, khususnya di tahun 2005 akibat krisis kenaikan harga minyak dunia, namun dalam lima tahun kemudian, Pemerintah berhasil menurunkan jumlah penduduk miskin, sekitar 4,5 juta orang,” kata SBY.

SBY mengatakan, pada tahun 2009 persentase penduduk miskin masih 14 persen atau sekitar 32 juta penduduk berada di bawah garis kemiskinan. Namun, pada Maret 2014, tingkat kemiskinan turun menjadi 11 persen, atau sekitar 28 juta penduduk,” kata Presiden.

Dalam pidato tahunan tersebut, SBY menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah tergoda untuk melanggar sumpah dan amanah rakyat.

“Dalam 10 tahun terakhir, saya sudah dedikasikan seluruh jiwa dan raga saya. Cobaan krisis dan tantangan tidak membuat saya pesimis atas masa depan Indonesia. Tidak pernah satu menit pun saya tergoda untuk melanggar sumpah dan amanah rakyat Indonesia, tanggung jawab saya bukanlah akhirnya pada parpol, parlemen, melainkan kepada rakyat Indonesia,” kata SBY, seperti dilansir Kompas, 15 Agustus 2014.

Dalam pidatonya ini, SBY juga menyinggung pelarangan gerakan ISIS. Menurutnya, ke-Indonesia-an harus dipertahankan secara mati-matian.

“Tidak ada gunanya makin makmur dan modern, namun kehilangan yang amat fundamenteal dan terbaik dari bangsa kita yaitu Pancasila, Bhineka tunggal Ika, semangat persatuan, toleransi, pluralisme, kesantunan dan kemanusiaan,” katanya.

“Karena itulah, pemerintah dengan tegas menolak penyebaran faham sesat ISIS di tanah air, karena bertentangan dan berbahaya bagi jati diri kita. Indonesia adalah negara ber-Ketuhan-an, bukan negara agama,” tegasnya yang disambut tepuk tangan peserta sidang.

Di ujung pidatonya, Presiden SBY secara terbuka menyatakan permintaan maaf kepada rakyatnya selama menjadi Presiden semenjak 2004 lalu.

“Tentunya dalam 10 tahun, saya banyak membuat kesalahan dan kekhilafan dalam melaksanakan tugas. Dari lubuk hati yang terdalam, saya meminta maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan itu. Meskipun, saya ingin selalu berbuat terbaik, tetapi saya tetap manusia,” tutupnya. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL