dugin dan putinLiputanIslam.com — “Konflik di Ukraina hanya puncak dari gunung es. Para pemikir Rusia seperti Dugin menganggap ini hanyalah satu perang dari sebuah konflik yang jauh lebih besar. Dan pada akhirnya, mereka melihat satu hari dimana hanya ada satu pihak yang bertahan.”

Demikian tulis Michael Synder dalam satu artikelnya di situs The End of the American Dream tanggal 13 Juni lalu: “Does ‘Putin’s Brain’ Believe That The United States Is The Kingdom Of Antichrist?”

Tulisan tersebut membuka satu sisi menarik dalam konflik antara Rusia dan Amerika, yaitu “Teori Konspirasi”. Dan hal itu tidak bisa dilepaskan dari sosok bernama Alexander Dugin. Orang yang dikenal sebagai “otaknya Vladimir Putin” ini menduduki tempat terhormat dalam dunia intelektualisme Rusia. Ia adalah seorang profesor di universitas elit di Rusia dan seringkali menjadi bintang tamu acara-acara talk show televisi-televisi utama Rusia. Lebih dari itu, bukunya berjudul “Eurasian Union” dianggap sebagai landasan politik luar negeri Rusia, terutama di bawah kepemimpinan Vladimir Putin.

Jika kita mau jujur, sikap politik Vladimir Putin, terutama dengan kegigihannya melawan dominasi AS dan sekutu-sekutunya, tidak lain adalah bersumber dari pandangan-pandangan Dugin. Demikian Michael Synder dalam artikelnya.

Dugin percaya bahwa “Tata Dunia Baru” yang dipimpin Amerika saat ini adalah satu rezim “kerajaan anti-Tuhan” yang cepat atau lambat akan berkonflik dengan Rusia hingga berhasil dihancurkan.

Pandangannya tentang tata dunia masa depan adalah bahwa dunia akan terpolarisasi menjadi 3 kutub: kutub Eurasia yang dipimpin oleh Rusia dengan beranggotakan negara-negara di kawasan Eropa Tengah dan Asia, kutub World Island yang didominasi oleh Amerika dan Eropa Barat serta kutub Rimland, yaitu negera-negara di luar kedua kutub di atas.

Tidak banyak yang mengenal Dugin, terutama di Amerika dan Eropa barat. Padahal ia-lah manusia yang seharusnya menjadi perhatian utama karena pandangan-pandangannya yang mempengaruhi kebijakan politik Rusia terhadap barat. Ia adalah “musuh barat” dengan pernyataan-pernyataannya seperti, “Jika Anda mendukung liberalisme global, maka Anda adalah musuh kami.”

Secara khusus Dugin sengat membenci Amerika dengan budaya kolonialismenya. Ia percaya bahwa campur tangan Amerika yang terlalu besar di dunia internasional sebagai faktor utama segala permasalahan global saat ini.

“Amerika adalah sesuatu yang tidak rasional, anti-kehidupan, budaya cangkokan yang tidak memiliki tradisi dan budaya suci yang mengakar kuat, namun demikian selalu mencoba memaksakan ke benua-benua lain nilai-nilai yang anti-etnis, anti-tradisi dan model “babilonik”,” tambah Dugin.

Lebih jauh, Dugin bahkan tidak pernah segan untuk menggunakan kata-kata dan istilah yang tidak umum dan hanya dipakai oleh para pengamat teori konspirasi, seperti “tata dunia baru” atau “kekuasan anti-kristus”, atas Amerika.

Menurut Doktrin Eurasianis yang diusung Dugin, terdapat permusuhan abadi yang tidak terpecahkan antara “kekuatan laut” yang terasosiasikan oleh dominasi AS dalam “tatanan dunia baru”-nya dengan “kekuatan darat” yang terasosiasikan dengan “tatanan Eurasia baru” yang terpusat pada Rusia, dimana yang kedua menjadi lawan dari globalisasi dan universalisasi etnis-budaya dalam “tatanan dunia baru”.

Dalam tradisi “manichean” klasik, Dugin memandang buruk Amerika dan tatanan dunia barunya sebagai “kerajaan anti-Kristus”. Dan menurut Dugin, sebuah “kerajaan anti-Kristus” suatu saat pasti akan hancur, dan Rusia lah yang akan menghancurkannya.

“Eurasianisme masih utuh di beberapa wilayah bekas Uni Sovyet, sembari menyesuaikan idiologinya kepada dunia yang telah melupakan tungku panas bolshevik (komunisme). Telah pergi “omong kosong” faham marxisme-leninisme tentang “perjuangan kelas” untuk digantikan dengan konflik global yang berakar pada “tanah yang suci” dan sebuah konflik tak terhindarkan antara kekuatan kontinen Eurasia dan kekuatan laut dari Inggris dan Amerika,” tulis Dugin dalam bukunya.

Namun bagi Vladimir Putin dan sebagian elit Rusia saat ini, Dugin bukan hanya “otak pemikiran” mereka, namun juga “spirit” mereka sebagaimana Rasputin dahulu menginspirasi keluarga Tsar. Idiologi Dugin dipenuhi dengan mantra-mantra marksisme metafisika dan ketaatan terhadap nilai-nilai tradisional “facis mistis” Julius Evola.

Idiologi Dugin adalah kepercayaan bahwa konflik terakhir akan terjadi antara Eurasia dengan “kerajaan anti-Kristus”.

Menurut Dugin, AS kini menjadi pusat dari kekuatan yang berkembang dari tatanan dunia baru “kerajaan anti-Kristus”, sehingga bagi pesaing tatanan tersebut satu-satunya jalan adalah menghancurkan Amerika, dan pada satu masa hal itu akan terjadi.

Sekali lagi, pemikiran ini datang dari seorang yang sangat dihormati di Rusia. Pada tahun 2008, Dugin meraih jabatan profesor di Moscow State University dan menjadi pimpinan Pusat Organisasi Sosiologi Nasional National untuk Studi-Studi Konservatif. Ia secara rutin menjadi bintang tamu di televisi-televisi nasional sebagai komentator isu-isu nasional dan global.

Profilnya semakin menanjak setelah terjadinya aksi-aksi demontrasi menentang Putin antara akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012. Pada saat yang sama Putin tengah berusaha mewujudkan ambisi Dugin dengan meraih kembali jabatan Presiden yang sebelumnya ditinggalkannya kepada penggantinya, Medvedev, dan membentuk blok Eurasian Economic Union (EEU) dengan anggota awal Belarusia, Kazakhstan, dan Rusia.

Profilnya yang semakin menonjol seiring munculnya kembali kekuasaan Putin, menunjukkan bahwa pandangan-pandangan Dugin didukung sepenuhnya oleh Putin. Jika tidak, tentu Dugin telah menjadi sejarah.

Kebanyakan orang Amerika tidak menyadari hal ini, namun gelombang sentimen anti-Amerika sangat kuat di Rusia saat ini, bahkan lebih kuat dari era Perang Dingin angara AS dengan Uni Sovyet. Dan hal ini tentu saja karena pengaruh pemikiran Dugin yang menganggap “political correctness” dan “neo-liberalisme” AS dan dunia barat sebagai “musuh bersama” yang harus dilawan oleh seluruh dunia.

“Apa yang kita lawan akan menyatukan kita, sedang apa yang kita cari akan memecah belah kita. Maka kita harus menekankan pada apa yang kita lawan. Musuh bersama akan menyatukan kita sementara nilai-nilai positif yang kita bela sebenarnya memisah-misahkan kita. Maka kita harus menciptakan sekutu strategis untuk menyingkirkan tata dunia yang mengatur kita saat ini, yang pada dasarnya bisa dideskripsikan sebagai “hak azazi manusia”, “anti-hirarki” dan “kebenaran politik”, semua yang pada dasarnya adalah wajah iblis, anti-Kristus, dan dalam kata lain, Kali-Yuga (yajuj majuj?),” kata Dugin.

Di Amerika sangat sedikit orang yang percaya bahwa perang melawan Rusia akan terjadi. Namun tidak demikian halnya di Rusia. Dan konflik di Ukraina hanyalah puncak gunung es dari perang yang lebih besar antara keduanya.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL