Boko-Haram-Bombing-Aftermath-JosLiputanIslam.com — Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 28 Juli, 4 orang remaja wanita anggota kelompok Boko Haram melakukan serangan bom bunuh diri di kota Kano. Serangan itu tidak saja mengagetkan aparat keamanan dan seluruh penduduk Nigeria, namun juga mengundang perhatian para pengamat politik dan terorisme internasional.

Bukan besarnya korban yang membuat aksi serangan itu  menjadi perhatian publik, namun karena serangan ini menimbulkan spekulasi “panas” bahwa Boko Haram telah merekrut para pelajar perempuan yang mereka culik pertengahan April lalu di kota Chibok, menjadi pembom bunuh diri.

Sementara bagi pemerintah dan aparat keamanan, aksi tersebut mengindikasikan telah terjadinya eskalasi yang sangat serius dari konflik melawan Boko Haram. Aparat keamanan kini menghadapi senjata baru yang memerlukan tindakan dan metode penanganan baru yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Aksi di kota Kano tersebut di atas masih ditambah lagi dengan laporan pejabat pemerintah yang menyebutkan ditangkapnya 2 remaja putri berumur 10 dan 18 tahun dengan sabuk bom melilit tubuhnya, di Katsina, pada hari yang sama.

Namun ternyata serangan-serangan itu bukan yang pertama terjadi. Pada tanggal 8 Juni seorang wanita dewasa yang mengendarai sepeda motor meledakkan dirinya di dekat barak militer di kota Gombe, menewaskan dirinya dan seorang polisi. Selanjutnya pada tanggal 27 Juli seorang remaja putri dengan bom yang disembunyikan di dalam penutup kepala, meledakkan diri di sebuah kampus universitas di Kano, melukai 5 personil kepolisian.

Setelah serangan-serangan tanggal 28 Juli, serangan terakhir terjadi tanggal 30 Juli, ketika seorang remaja putri kembali meledakkan dirinya di kampus universitas Kano, menewaskan 6 orang.

“Menggunakan pembom bunuh diri wanita adalah strategi yang paling dramatis yang dilakukan organisasi itu. Hal ini mempermudah mereka untuk menembus target mereka karena kami tidak begitu curiga terhadap perempuan,” kata Martin Ewi, seorang peneliti dari Institute for Security Studies (ISS) di Afrika Selatan, kepada kantor berita BBC.

“Bila Anda memiliki wanita pembom bunuh diri, tantangan keamanan menjadi lebih besar karena itu berarti Anda memerlukan polisi wanita di setiap pos penjagaan untuk memeriksa perempuan,” tambahnya.

“Namun hal ini juga menunjukkan keputusasaan, dan cenderung menjadi kartu terakhir yang dimainkan Boko

Haram. Namun kita tidak tahu apakah mereka telah mencapai tahap itu, atau apakah telah memutuskan untuk memaikan kartu itu lebih awal,” tambahnya.

Namun demikian, Boko Haram telah mengirimkan peringatan yang mengerikan bagi pemerintah Nigeria karena penolakannya untuk menegosiasikan pertukaran tahanan dengan melepaskan beberapa personil Boko Haram di penjara.

“Ini mungkin sebuah cara untuk mengatakan bahwa jika tidak ada pertukaran tahanan, maka Anda mungkin akan melihat beberapa gadis datang kembali dengan bom,” kata Ewi.

Menurut keterangan analis keamanan Nigeria, Bawa Abdullahi Wase, Boko Haram kini telah melakukan 11 bom bunuh diri yang dilakukan oleh pria maupun wanita, sejak kelompok ini meluncurkan pemberontakan pada tahun 2009. Ini menunjukkan bahwa kelompok ini menyalin taktik kelompok-kelompok ekstremis di negara-negara seperti Irak dan Afghanistan.

Tapi dia mengesampingkan kemungkinan bahwa pasukan bunuh diri kelompok ini mendapatkan pelatihan di luar negeri.

Mengenai mengapa Boko Haram sulit dikalahkan, Bawa berpendapat bahwa Boko Haram tidak terdiri dari orang-orang “buta huruf”, tapi juga memiliki banyak anak muda Nigeria dengan gelar di bidang kimia, fisika dan teknik yang telah berubah menjadi pembuat bom.

“Mereka adalah orang yang berasal dari keluarga terhormat, dan sebagian besar berada di kelompok usia antara 18 sampai 40 tahun,” kata Bawa.

“Mereka telah gagal untuk mendapatkan pekerjaan, orang tua mereka telah gagal untuk mendapatkan gratifikasi dan pensiun mereka setelah 35 tahun dalam pelayanan sipil dan mereka berjuang untuk menempatkan makanan di atas meja.

Mereka tidak melihat ada harapan di bawah pemerintahan ini dan keluar dari keputusasaan mereka dengan bergabung Boko Haram.”

Mengekspresikan pandangan yang sama, Ewi mengatakan banyak anggota baru Boko Haram, termasuk pelaku bom bunuh diri,  tidak hanya termotivasi oleh ideologi agama, tetapi juga uang.

Dia mengklaim bahwa pembom bunuh diri Boko Haram pertama yang menyerang markas polisi di ibukota Abuja pada tahun 2011, dibayar empat juta naira ($24.870).

“Dia adalah orang miskin. Ia melakukannya untuk empat anaknya sehingga mereka memiliki kehidupan yang lebih baik,” kata Ewi.

Boko Haram pun membual setelah bom bunuh diri pertama itu bahwa mereka memiliki sekitar 300 orang lain yang terlatih dan bersedia untuk melakukan serangan tersebut.

Editor media Nigeria yang dihormati Daily Trust, Mannir Dan Ali, mengatakan tidak jelas siapa pembom bunuh diri wanita di Kano.

Dia mengatakan salah satu teori adalah bahwa mereka “anak-anak terlantar yang mengemis di jalan-jalan” dan Boko Haram merekrut mereka setelah mereka diusir dari kota oleh otoritas yang berusaha memperbaiki citra Kano yang bebas dari kemiskinan. Tapi Bawa mengatakan pembom bunuh diri perempuan lebih mungkin keturunan dari anggota Boko Haram.

“Pikiran mereka telah diindoktrinasi, seperti pikiran orang tua mereka,” katanya, mengacu pada fakta bahwa anggota Boko Haram percaya bahwa mereka tengah melancarkan perang suci melawan pemerintahan kafir dan bahwa para pejuangnya akan masuk surga.

“Perempuan Boko Haram telah lulus dari menjadi pembantu yang memasak dan bersih untuk menjadi pembom,” katanya.

Analis politik Nigeria Naziru Mikailu mengatakan, dia tidak terkejut bahwa Kano telah menjadi sasaran utama mereka, karena pemimpin Boko Haram Abubakar Shekau dan beberapa komandan tingginya berbasis di kota ini sampai operasi pasukan keamanan tahun lalu memaksa mereka untuk mengungsi ke hutan Sambisa yang luas di sepanjang perbatasan dengan Kamerun.

Keluarga mereka tetap tinggal di kota padat penduduk itu dan beberapa dari mereka cenderung menjadi pelaku bom bunuh diri yang melanda pekan lalu, meskipun Boko Haram belum mengaku bertanggung jawab atas serangan-serangan itu.

Bulan lalu juru bicara militer Nigeria Onyema Nwachukwu mengatakan Boko Haram memiliki “sayap perempuan” yang menjalankan dua tujuan lain: menjadi memata-matai dan untuk merekrut istri potensial untuk “pejuang” laki-laki Boko Haram di garis depan.

Militer telah mendobrak salah satu dari sel-sel itu dan menangkap tiga tersangka, termasuk Hafsat Bako, janda Usman Bako, anggota Boko Haram yang dibunuh oleh pasukan keamanan. Demikian keterangan Kolonel Nwachukwu.

Ewi mengatakan ia tidak akan mengesampingkan kemungkinan bahwa Boko Haram memikat perempuan dan anak perempuan, banyak dari mereka yang miskin dan putus asa mencari keamanan finansial, ke jajarannya.

“Mereka mengatakan mereka ingin anak perempuan untuk menikah, melakukan pekerjaan rumah tangga, untuk berkembang biak. Jadi mereka menyerang perempuan.. Mereka memahami pentingnya ini dan dampak yang akan terjadi pada masyarakat”.(ca/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL