Gaza, LiputanIslam.com–Baru-baru ini, Palestina memperingati 70 tahun hari Nakba, atau hari di mana tanah mereka dicuri oleh Israel pada 1948. Di hari yang sama, AS yang meresmikan kedubes mereka dari Tel Aviv ke Jerusalem—sebuah kemenangan lain bagi kolonialisme Israel.

Menjelang peringatan Hari Nakba, warga Palestina melakukan demo March of Great Return sejak Maret di Gaza untuk menuntut dikembalikannya tanah leluhur mereka. Namun, tentara Israel membalas mereka dengan membunuh 62 orang dan melukai 2771 lainnya.

Di masa-masa berdarah ini, pada 5 Mei lalu Palestinian Conceptual Art Forum menggelar sebuah acara di perbatasan Gaza yang mengumpulkan para seniman Palestina untuk berpastisipasi dalam demo Great Return March melalui media lukisan.

Ketua organisasi tersebut, Thaer al-Tawil, menyebut kegiatan ini sebagai “aksi protes [melalui] seni.” Hal ini dicerminkan oleh judul acara ini yaitu “Untuk Pengembalian, Kami Melukis”.

“Ide dari proyek kesenian ini dibuat ketika para seniman Palestina ingin berpatisipasi dalam Great Return March dengan mengorganisir acara besar yang merefleksikan pertumpahan darah demonstran Palestina di perbatasan Gaza,” papar al-Tawil.

“Protes [melalui] seni bertujuan untuk mengirim pesan kepada penjajahan Zionis. Para seniman Palestina adalah seperti burung perdamaian yang melukis untuk menyebarkan informasi tentang penindasan rakyat Palestina selama bertahun-tahun,” lanjutnya.

Al-Tawil menjelaskan bahwa sejak peristiwa Nakba pada 1948, ketika rakyat Palestina menghadapi genosida etnis dan diusir dari tanah mereka oleh militer Zionis untuk membuka jalan bagi pendirian Israel, para seniman memiliki tanggungjawab “untuk mempotret dan menggambarkan semua ingatan kolektif ini melalui lukisan dan karya seni.”

Dia menyebut nama Ismael Shamoot, Ismael Ashoor, Bashir Sinwar dan Fathi Ghabn, para seniman Palestina yang pertama kali menggunakan karya mereka sebagai bentuk perlawanan. Seniman Palestina pun telah dipersekusi secara rutin oleh Israel, dimulai dengan membatasi kebebasan mereka dalam berkarya, sampai melalui pembunuhan, seperti yang dihadapi oleh kartunis Palestina, Naji al-Ali.

Salah satu seniman yang berpartisipasi dalam acara ini, Amna Alsalmi, menjelaskan lukisannya yang menggambarkan pemuda revolusioner dengan ketapel di tangannya:

“Seperti yang Anda lihat, pemuda ini berdiri dengan berani di depan aksi penjajahan. Saya melukis latar belakangnya untuk mencerminkan realitas kita— seperti asap yang keluar dari ban-ban yang terbakar. Lukisan ini memotret keberanian dan kekuatan, sekalipun adanya perbedaan antara senjata buatan rumah kita dan senjata canggih tentara Israel.”

Alsalmi menilai bahwa semua orang Palestina melawan dengan cara mereka sendiri. “Anak-anak muda revolusioner dengan ketapel dan batu, fotografer dengan kamera, dan para seniman dengan pensil mereka. Kami semua mengirim pesan yang sama kepada dunia: kami punya hak untuk mendapat tanah kami kembali.”

Berbeda dari lukisan lainnya, Basel el-Maqosui melukis seorang seorang pria yang memakai tutup kepala keffiyeh dengan warna monokrom. Menurutnya, pria yang memakai keffiyeh adalah “simbol Palestina yang telah diketahui oleh seluruh dunia. Itu menyimbolkan moral dan nilai-nilai baik, dan perbuatan yang berasal dari nilai-nilai ini.”

Ismaeel Y Dahlan melukiskan objek yang memancing inspirasi, perlawanan, dan metafora. Lukisannya menggunakan latar belakang abstrak yang di tengahnya didominasi oleh gambar phoenix berwarna cerah.

Mengenai nilai yang ingin ia sampaikan sebagai seniman, Dahlan menyimpulkan bahwa “kami melawan budaya kekerasan dengan budaya kekuatan.” (ra/mintpressnews)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*