The father (C) of Palestinian man Zakareya al-Ashqar, who medics said was killed during heavy Israeli shelling, reacts outside a hospital morgue in Gaza City July 21, 2014. (Reuters / Mohammed Salem)

The father (C) of Palestinian man Zakareya al-Ashqar, who medics said was killed during heavy Israeli shelling, reacts outside a hospital morgue in Gaza City July 21, 2014. (Reuters / Mohammed Salem)

GazaCity, LiputanIslam.com – Serangan  Tentara Zionis Israel kembali menuai korban. Empat penduduk Palestina dilaporkan telah gugur,  dan puluhan lainnya terluka setelah tank Israel menghantam Rumah Sakit Al-Aqsa di Gaza bagian tengah, demikian keterangan juru bicara Kementrian Kesehatan Palestina, Ashraf Al-Qidra.

Al-Qidra mengatakan bahwa di lantai tiga RS, yang dibombardir Israel, merupakan tempat untuk operasi dan perawatan intensif.  Granat-granat Israel juga mendarat di area sekitar RS.

Seorang dokter di RS  tersebut, Fayez Zidane, mengatakan bahwa granat Israel telah menghancurkan ruangan di lantai tiga, lantai empat dan ruang tunggu RS.

“Sampai kini masih ada penembakan yang diarahkan ke rumah sakit,” katanya kepada AP. Ia juga mengungkapkan, bahwa dirinya menemukan potongan-potongan roket di RS.

Pihak RS, kata Zidane, meminta bantuan kepada Palang Merah dan RS terdekat untuk mengirim bantuan kepada RS Al-Aqsa.

Ada berbagai laporan yang berbeda dalam serangan Israel tersebut. Menurut Reuters, jumlah yang terluka dalam serangan mencapai 16 orang, sementara AFP menyatakan korban luka mencapai 60 orang, termasuk 30 petugas medis.

Menurut Russian Today, pihak militer Israel belum memberikan komentar terkait penembakan tersebut. Namun sebelumnya, mereka pernah menuduh bahwa pejuang Palestina, Hamas, telah melesakkan roket dari dasar RS Gaza, dan mereka dituduh bersembunyi di bawah gedung-gedung.

Hingga hari ini, korban tewas di Palestina telah melebihi angka 500 orang, sejak serangan Israel yang disebut Operation Protective Edge dilancarkan pada 8 Juli. Diperkirakan, 100 diantara korban yang tewas adalah anak-anak.

Sementara itu, aliansi dokter yang tergabung dengan Medecins Sans Frontieres (MSF), telah meminta Israel untuk menghentikan penembakan di Jalur Gaza. Serangan itu, mempersulit petugas kesehatan untuk memberikan perawatan kepada penduduk yang terluka.

Dalam pernyataan yang dimuat di situsnya, MSF menyatakan, “Sebagian besar korban jiwa yang tewas dan terluka di Jalur Gaza, adalah penduduk sipil.  Dan tenaga medis juga harus berjuang (membantu korban) di bawah kobaran api.”

MSF menyebutkan, bahwa mereka telah menyaksikan dua orang paramedis yang gugur , dan dua lainnya terluka saat berusaha menyelamatkan penduduk sipil yang sedang dibombardir di kawasan Shujaiyeh.

Apalagi, MSF juga menggunakan kendaraan yang bisa diidentifikasi dengan jelas, setidaknya dari jarak 300 meter di ketinggian. Karenanya, MSF mengingatkan janji pemerintah Israel, berupa jaminan keamanan bagi anggota  MSF, sepanjang wilayah Erez hingga Jalur Gaza.

Dan menurut laporan Haaretz, salah satu media Israel yang dikutip MSF, dikabarkan bahwa tempat  pengungsian yang disediakan PBB saat ini penuh sesak, dan kondisi kebersihannya sangat memprihatinkan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL