MALACCA-STRAITT, foto: The Jakarta Post

MALACCA-STRAITT, foto: The Jakarta Post

Jakarta, LiputanIslam.com — Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) merilis laporan yang menyebutkan bahwa Selat Malaka adalah jalur alternatif yang potensial bagi ‘manusia perahu’ untuk mencapai Australia. Yang dimaksud manusia perahu adalah para pengungsi yang melarikan diri dari negaranya dan berlayar melintasi lautan.

Setelah tiba di Sumatera, mereka lantas pergi menuju Jakarta, lalu ke Makassar atau Kendari, sebelum akhirnya naik kapal lain menuju Australia.

“Perjalanan melalui Selat Malaka harus melewati rute yang panjang, yaitu dari Klang – Malaysia menuju Medan, atau dari Johor Baru menuju Batam,” ulas laporan tersebut. Ditambahkan, bahwa pengungsi ini biasa menggunakan perahu dengan kapasitas 55 orang.

Dari laporan thejakartapost.com, 15 Desember 2014, UNHCR mewawancarai beberapa pengungsi yang mencoba rute baru dan menemukan bahwa mereka menyuap berbagai pihak yang bersedia membantu penyelundupan tersebut. Besarnya uang suap bervariasi, disesuaikan dengan lokasi yang dituju. Para pengungsi dewasa dipatok biaya sebesari 300-700 dollar AS untuk sampai di Indonesia. Sedangkan untuk sampai ke Australia, mereka dikenakan biaya sebesar 1500- 3.000 dollar. Sementara untuk anak-anak, mereka dikenakan biaya setengah harga atau dimasukkan dalam kategori paket keluarga.

UNHCR lebih lanjut mengungkapkan bahwa buruh migran ilegal asal Indonesia juga melakukan perjalanan melalui Selat Malaka.

Dari data UNHCR, sebelumnya para pengungsi Rohingya menggunakan rute melalui Teluk Benggala atau Laut Andaman. Namun baru-baru ini, mereka lebih melalui Selat Malaka dengan pertimbangan keamanan.

Setelah tiba di Sumatera, banyak pengungsi Rohingya mencoba untuk mencapai Australia dengan melakukan perjalanan ke Jakarta dengan bus dan kemudian terbang ke timur Makassar atau Kendari, lalu kemudian berlayar menuju Australia.

Namun, upaya mereka sering gagal karena faktor cuaca, kerusakan mesin, atau intersepsi oleh otoritas Australia. Akibatnya, mereka harus kembali ke Indonesia.

Seperti diketahui, kondisi kaum Muslimin Rohingya sangat tertindas di Myanmar. Sebagai kaum minoritas, diperkirakan sekitar 1,3 juta Rohingya hidup dengan kondisi mengenaskan.

Sebanyak 793 Muslim Rohingya terdaftar dengan UNHCR di Indonesia, dan sebanyak 738 telah diakui sebagai pengungsi. Beberapa dari mereka berniat untuk melakukan perjalanan ke Malaysia sebelum pergi ke Australia, tetapi kapal mereka terdampar di Indonesia karena cuaca.

Sedangkan Australia, telah menerapkan kebijakan baru untuk para pencari suaka. Untuk pencari suaka yang terdaftar di UNHCR setelah tanggal 1 Juli 2014, tidak lagi memenuhi persyaratan untuk berlindung di Australia.

Saat ini Australia masih bersedia menampung para pengungsi yang terdaftar, namun mengurangi jumlah yang dialokasikan, sehingga para pengungsi ini harus menetap di Indonesia untuk jangka waktu yang lebih lama. Selain itu, Australia juga membatasi kuota yang disediakan untuk pengungsi yang datang melalui Indonesia, dari 600 menjadi 450 pertahun.

Sekedar informasi, Indonesia belum meratifikasi Konvensi 1951 mengenai Status Pengungsi dan Protokol 1967 karena khawatir akan dibanjiri oleh pengungsi dari luar. Saat ini, Indonesia hanya menjadi zona transit bagi pengungsi yang ingin mencapai Australia. (Baca: Bersikap Adil atas Imigran Afghanistan)

Hingga  akhir November, ada 6.348 pencari suaka terdaftar di UNHCR Jakarta. Mereka berasal dari dari Afghanistan (60 persen), Iran (9 persen), Somalia (6 persen) dan Irak (6 persen).

Sementara itu, jumlah pengungsi terdaftar di UNHCR Jakarta mencapai 4.456 jiwa.  Asal Afghanistan sebanyak 38 persen, 18 persen berasal dari Myanmar, 8 persen dari Sri Lanka dan 8 persen dari Somalia. Oleh karena itu, total pengungsi dan pencari suaka di Indonesia mencapai 10.804 jiwa. Sekitar 30 persen dari total pengungsi adalah anak-anak. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL