Washington, LiputanIslam.com— Semenjak hari pemilihan presiden AS pada tanggal 8 November lalu, terdapat setidaknya 701 serangan kebencian terhadap Muslim, imigran, LGBT, perempuan, orang-orang kulit hitam, dan kaum minoritas lainnya.

Gangguan terhadap Muslim dicatat sebanyak 361 kasus sepanjang tahun 2016, dengan rata-rata lebih dari satu kasus perhari. Jumlah ini disandingkan dengan jumlah serangan Islamophobia setelah kejadian  9/11, ketika banyak Muslim yang takut keluar rumah.

Dua reporter dari Huffington Post, Christopher Mathias and Rowaida Abdelaziz,  melaporkan bahwa terhitung sejak 30 Oktober lalu, terdapat 310 serangan kepada Muslim.

“Setelah serangan teror tahun lalu di Paris dan penembakan massal di San Bernardino, California — dan di tengah retorika anti-Muslim dari politisi-politisi AS— laporan tentang Muslim di Amerika yang menghadapi kejahatan, gangguan, intimidasi, telah melambung tinggi. Banyak orang Muslim menilai Islamophobia saat ini lebih parah dari sebelumnya— bahkan lebih parah dari kejadian 9/11,” demikian ditulis Mathias dan Abdelaziz.

Beberapa kasus dalam daftar mereka adalah kasus pada 30 Oktober ketika seorang pria asal Somalia dipukul dengan tinju besi dan kursi oleh tiga orang asing dan satu kasus lagi pada 26 Oktober saat pejabat Oklahoma, Rep. Juhn Bennett, meloloskan undang-undang pelarangan advokasi pro-Muslim dari berbagai NGO.

“Kami melacak  kasus Islamophobia di seluruh kawasan AS, karena itulah satu-satunya cara untuk menghentikan aksi kebencian,” tulis Mathis dan Abdelaziz. (ra/mintpresstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL