Riyadh, Lirudal jinjing pemberontakputanIslam.com — Saudi Arabia dikabarkan tengah membujuk pemerintah Pakistan untuk membantu menyediakan senjata-senjata buatannya untuk membantu para pemberontak Suriah. Demikian laporan kantor berita Perancis AFP sebagaimana dikutip berbagai media internasional, berdasar keterangan pejabat keamanan Saudi Arabia, hari Minggu (23/2).

Amerika telah menolak bagi pemberian senjata bagi para pemberontak Suriah karena khawatir senjata-senjata itu akan jatuh ke tangan kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan Al Qaida. Namun dengan kegagalan perundingan Genewa II, Amerika telah memperlunak sikapnya. Dan salah satu bentuknya adalah pemberian senjata-senjata buatan Pakistan.

Pakistan diketahui telah berhasil membuat senjata rudal jinjing anti-pesawat dan anti-tank, yang ditiru dari senjata buatan Cina. Menurut sumber-sumber keamanan Saudi, pemerintahnya kini tengah membujuk Pakistan untuk menyediakan senjata-senjata itu bagi pemberontak Suriah dengan pembayarannya yang dilakukan Saudi.

Sumber tersebut menyebutkan kunjungan panglima AB Pakistan Jendral Raheel Sharif ke Saudi awal bulan lalu. Saat itu ia bertemu dengan Putra Mahkota Salman bin Abdul Aziz. Kunjungan tersebut kemudian dibalas dengan kunjungan Pangeran Salman ke Pakistan minggu lalu. Sebelumnya bahkan Menlu Saudi Pangeran Saud al-Faisal telah melakukan kunjungan pendahuluan.

Menurut laporan tersebut, Yordania akan menjadi basis penyimpanan senjata-senjata itu sebelum disalurkan ke tangan para pemberontak Suriah.

Meski tidak mendapatkan konfirmasi langsung dari pejabat-pejabat resmi Saudi, Pakistan dan Yordania, namun pemimpin oposisi Suriah Ahmad Jarba, dalam inspeksinya di utara Suriah minggu lalu mengatakan bahwa “senjata-senjata berat akan tiba tidak lama lagi.”

Hal yang sama juga dikemukakan Abdel Aziz dari Gulf Research Centre yang mengatakan, “Amerika mengijinkan sekutu-sekutunya untuk menyediakan senjata anti pesawat dan anti-tank, setelah gagalnya perundingan Genewa serta ketegangan baru dengan Rusia.”

Sementara itu Simon Henderson, Direktur di Washington Institue for Near East Policy mengatakan bahwa “menyediakan senjata-senjata berat kepada para pemberontak akan mengurangi tekanan atas Amerika dalam jangka pendek.”

“Namun kekhawatiran jangka panjang adalah senjata-senjata jinjing itu akan bocor dan digunakan untuk menembak jatuh pesawat penumpang, di suatu tempat di dunia nantinya,” tambahnya.

Menurut berbagai analis, Saudi kini memegang peran lebih besar lagi dalam urusan Suriah, khususnya dalam hal mengontrol dinamika pemberontakan di wilayah Selatan Suriah yang berbatasan dengan Suriah. Sementara Qatar dan Turki yang mengendalikan pemberontakan di wilayah utara Suriah, kini hanya menjadi pemain cadangan.

Hal itu terlihat dari pemecatan panglima Free Syrian Army yang dikenal dekat dengan Qatar, Jendral Salim Idris, dengan panglima baru yang dekat dengan Saudi Jendral Abdel Ilah al-Bashir. Yang terakhir ini adalah pemimpin pemberontak di daerah Quneitra di Selatan Suriah.(ca/afp/al-akhbar)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL