gaza in the darkGaza, LiputanIslam.com — Satu-satunya pembangkit listrik di Jakur Gaza padam gara-gara kehabisan bahan bakar, Sabtu (15/3). Akibatnya, kegelapan pun melanda seluruh Gaza.

Pembangkit listrik tersebut adalah sumber utama tenaga listrik di wilayah berpenduduk 1,8 juta jiwa ini. Tanpa pembangkit listrik tersebut, pemadaman diperkirakan bisa berlangsung hingga 12 jam per hari. Sedangkan sumber listrik lainnya di daerah ini berasal dari Mesir dan Israel.

Gaza amat miskin fasilitas infrastruktur. Wilayah yang dipimpin Hamas ini harus hidup dalam blokade ketat Israel dan Mesir. Tak heran jika Gaza kerap disebut “penjara hidup terbesar di dunia”.

Blokade ketat berarti adalanya pembatasan impor bahan bakar dan suplai bahan bangunan. Beberapa bulan lalu, pembangkit listrik satu-satunya ini sempat padam selama 43 hari, lagi-lagi akibat kehabisan bahan bakar. Saat itu, Mesir menutup lorong bawah tanah yang selama ini menjadi jalur tidak resmi bagi suplai barang kebutuhan warga Gaza.

Dalam insiden listrik padam sebelumnya, Qatar mengucurkan dana ke Gaza melalui rekan Hamas di Tepi barat, yaitu Otorita Palestina. Dana itu kemudian dipakai untuk membeli bahan bakar dari Israel. Namun, bahan bakar itu kini telah habis, kata Ahmed Abu Al-Amrain, juru bicara departemen energi di Gaza.

Pada 12 Maret lalu, Qatar menyatakan siap menambahkan dana untuk mencukupi kebutuhan bahak bakar di Gaza selama tiga bulan. Agar rencana ini terlaksana, Israel harus membuka pintu perlintasan komersial di perbatasan dengan Gaza yang selama ini ditutup setelah terjadi bentrok pekan ini.

“Penutupan perbatasan itu oleh penjajah Israel adalah bentuk hukuman kolektif,” kritik Amrain.(ca/republika.co.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*