Sumber: republika.co.id

Makkah, LiputanIslam.com– Pada hari pemakaman KH Maimun Zubair (Mbah Moen) di Ma’la Makkah, seorang sahabat seperguruan Mbah Moen ikut hadir menyaksikan. Namanya Soddiq bin Muhammad, seorang kakek-kakek yang sudah berumur 80 tahunan hanya bisa menyaksikan proses pemakaman sahabatnya dari dalam mobil.

Seperti dilansir republika.co.id pada Kamis (8/8), kakek bernama Soddig itu sempat diminta pergi oleh polisi karena mobil yang ia gunakan berhenti di dalam boulevard pemakaman. Soddiq memohon agar dia diperkenankan parkir di situ sembari menunjukkan kakinya yang bengkak kepada polisi itu dan mengatakan tak bisa berjalan kaki masuk ke area pemakaman.

“Saya mau ziarah, kawan saya itu. Orang Indonesia yang kasih tahu sama saya hari ini,” ucapnya.

Menurutnya, dulu ia bersama Mbah Moen bersama-sama berguru ke Syekh Yasin Fadani, ulama keturunan Padang yang dijuluki Musnid ad-Dunya atau gudangnya sanad dalam ilmu hadist. “Dulu saya dan Maimoen datang berguru ke Syekh Yasin Fadani minta sanad,” ungkapnya.

Ia bisa berbahasa Indonesia karena dulu di rumah orang tuanya adalah tempat berkumpulnya orang-orang Indonesia yang belajar di Makkah. Orang-orang Indonesia yang tinggal di rumah orang tuanya, termasuk Mbah Moen selama di Makkah belajar di Madrasah Darul Ulum di mana Syekh Yasin Fadani menjadi direkturnya.

Kepada Syekh Yasin Fadani, Soddiq bersama Mbah Moen banyak belajar berbagai disiplin ilmu, diantaranya, tafsir, hadist, ilmu falak, dan ilmu mantik. “Saya dan Maimoen memegang sanad dari Syekh Yasin Fadani tapi kita selalu diajarkan untuk selalu tawadhu dan tidak boleh sombong,” katanya.

Soddiq mengenang Syekh Yasin Fadani sebagai orang yang sangat hebat dan pintar dalam ilmu hadist. Bahkan dalam mobilnya ia selalu membawa kita Bugyat Al Musytaq, sebuah kitab yang ditulis oleh Syekh Yasin Fadani. “Alim luar biasa. Betul-betul ulama tapi selalu tawadhu,” tuturnya.

Saat bercerita, beberapa jamaah haji Indonesia mengetahui bahwa Soddiq adalah teman Mbah Moen, dan menghampiri mencium tangannya. Namun, dia selalu berusaha untuk menarik tangannya. Karena ada kerumunan, polisi kembali meminta Soddiq untuk pergi, dan ia pun pergi.

Baca: Mbah Moen Wafat, Presiden Jokowi Sampaikan Duka Cita Mendalam

Setelah jenazah Mbah Maimoen tiba di dalam komplek pemakaman, ternyata Soddiq kembali muncul dari dalam mobilnya. Ia menangis, tampak air matanya membasahi pipinya. “Mudah-mudahan Maimoen selamat dan rahmat Allah semoga turun padanya,” doanya. (aw/Republika).

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*